2 a.m. talk

“Halo?”

“Tumben lu bangun jam segini. Apa emang nggak tidur? Atau mimpi buruk?” cerocosnya.

“Nggak sih… kebangun aja,” ujarku sambil memijat kepalaku sendiri. Beberapa kali malam mengetuk benak yang kutinggalkan saat lelap dan beberapa kali pula aku jadi terjaga. Tapi, ini adalah kali pertama aku tanpa pikir panjang memutuskan untuk menghubunginya dini hari.

“Oh, gitu.”

“Ngapain lu bangun jam segini?”

“It’s indomi o’clock,” tukasnya santai. Jika lebih serius mendengarnya, memang ada sayup-sayup denting garpu pada panci dan bunyi air yang menggelegak berbuih-buih.

“Jam 2 pagi Mbak, bukan jam indomi.”

“Jam 2 pagi di waktu gue sedang membuat indomi. Alias jam indomi. Fair enough.”

“Buset, perasaan baru dua hari yang lalu makan indomi.”

“Ya… nggak papa!” sambungnya dengan suara tawa. Ia terdengar malas mencari pembenaran lagi, namun di saat yang sama mengakui bahwa makan mi instan terlalu sering memang tidak baik.

“Kalau ngekost jadinya every time is indomi o’clock, ya.”

“Nggak, lah. Lu kira gue maniak indomi.”

You sure sound like you are.”

“Hu-uh, terserah, deh.” Aku dapat mendengarnya mematikan kompor, lalu menuangkan isi panci ke atas mangkuk–atau piring. “Bentar, ye.”

Sesuai katanya, aku menunggu. Mendengar ia berjalan, meletakkan mangkuk–atau piring–di atas meja, lalu menarik kursi. Sejurus kemudian, terdengar suara lain, sepertinya suara suapan mi ke dalam mulutnya.

“Enak, ya?” godaku.

“Banget. Eh, sori yak, nggak bisa bagi-bagi. Daripada lo dengerin gue makan doang, mending lo cerita apa, kek. Gue dengerin deh, sampe mi gue habis. Sampe gue ngantuk juga kalau perlu.”

“Berarti cerita gue bikin bosen, ya? Bisa sampai ngantuk,” selorohku sambil memutar otak, mencari sesuatu yang dapat kuceritakan.

“Nggak, suara lo meninabobokan soalnya. Hahaha.”

“Yee. Dasar. Ngomong-ngomong, gue nggak punya cerita. Lo mau denger gue main harmonika aja, nggak?”

“Dengan senang hati.”

Aku meraih harmonika yang kusimpan di laci mejaku. Sebenarnya, sama sekali tak terpikir olehku untuk bermain harmonika, namun tiba-tiba ada serentetan nada yang mengusikku. Sambil mengepit instrumen itu di mulutku, aku meletakkan ponselku di depan mulutku lalu mulai bermain.

“Gimana?”

“Kayak jingle susu murni yang  suka lewat di jalanan, hahaha!” tawanya.

“Kurang ajar,” tukasku masam.

“Nggak sih, sebenernya nggak kayak jingle itu. Gue cuma bingung aja harus mendeskripsikannya gimana. Soalnya… aneh, ya, aneh. Aneh kayak rombongan sirkus keliling di dongeng-dongeng, jam tua yang berdentang tiga belas kali tapi hanya di waktu tertentu, halaman-halaman tersembunyi di deep web… ya… aneh, The.”

“Oh ya?” aku tertawa kecil mendengarnya. Ia selalu punya cukup banyak metafora untuk menggambarkan situasi apa pun; cukup banyak untuk selalu membuatku tercengang akan seberapa liar isi kepalanya.

“Ya…” Ia tertawa mengekor, sepertinya tak yakin harus tertawa karena apa namun ingin tertawa saja mendengar tawaku. “Dari mana tuh memang, inspirasinya?”

“Dari beberapa saat setelah pembicaraan kita berlangsung.”

“Ooo. Berarti, kita aneh, ya.”

“Itu pertanyaan atau pernyataan?”

“Pernyataan,” tawanya.

“Ya… mungkin itu ada benarnya. Tapi gue lebih suka bilang kalau kita hampir selalu terjebak dalam situasi-situasi aneh. Buktinya, keseluruhan isi pembicaraan kita sekarang aja aneh.”

“Tapi lo menikmatinya, kan?” godanya. “…seperti gue menikmati menjadi aneh bersama lo,” imbuhnya lagi.

“Tentu, lah. Siapa bilang gue nggak suka?”

“Memang ya, Tuhan bekerja dengan cara yang aneh. Dia menjadikan keanehan sebagai hal yang melekatkan kita.

Yang mana… aneh juga, tapi surprisingly, I don’t mind. Oh, look, the abundance of ‘aneh’ here.”

“Ya. Gue menikmati setiap situasi aneh bersama lo, Stara.” Aku senang menyebutkan nama depannya dan selalu mencari momen yang pas untuk mengatakannya.

Ia tertawa terbahak-bahak. “Me too, Artheo. Me too.”

Panggilan masih tersambung, namun kami diam selama beberapa saat. Setiap kali hendak berbicara, yang mampu keluar hanya dengusan yang berujung tawa.

Akhirnya, ia buka suara lagi, “Theo, lu bisa main harmonika pakai hidung, nggak?”

Published by

Nagit

nabilagita98@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s