2 a.m. talk

“Halo?”

“Tumben lu bangun jam segini. Apa emang nggak tidur? Atau mimpi buruk?” cerocosnya.

“Nggak sih… kebangun aja,” ujarku sambil memijat kepalaku sendiri. Beberapa kali malam mengetuk benak yang kutinggalkan saat lelap dan beberapa kali pula aku jadi terjaga. Tapi, ini adalah kali pertama aku tanpa pikir panjang memutuskan untuk menghubunginya dini hari.

“Oh, gitu.”

“Ngapain lu bangun jam segini?”

“It’s indomi o’clock,” tukasnya santai. Jika lebih serius mendengarnya, memang ada sayup-sayup denting garpu pada panci dan bunyi air yang menggelegak berbuih-buih.

“Jam 2 pagi Mbak, bukan jam indomi.”

“Jam 2 pagi di waktu gue sedang membuat indomi. Alias jam indomi. Fair enough.”

“Buset, perasaan baru dua hari yang lalu makan indomi.”

“Ya… nggak papa!” sambungnya dengan suara tawa. Ia terdengar malas mencari pembenaran lagi, namun di saat yang sama mengakui bahwa makan mi instan terlalu sering memang tidak baik.

“Kalau ngekost jadinya every time is indomi o’clock, ya.”

“Nggak, lah. Lu kira gue maniak indomi.”

You sure sound like you are.”

“Hu-uh, terserah, deh.” Aku dapat mendengarnya mematikan kompor, lalu menuangkan isi panci ke atas mangkuk–atau piring. “Bentar, ye.”

Sesuai katanya, aku menunggu. Mendengar ia berjalan, meletakkan mangkuk–atau piring–di atas meja, lalu menarik kursi. Sejurus kemudian, terdengar suara lain, sepertinya suara suapan mi ke dalam mulutnya.

“Enak, ya?” godaku.

“Banget. Eh, sori yak, nggak bisa bagi-bagi. Daripada lo dengerin gue makan doang, mending lo cerita apa, kek. Gue dengerin deh, sampe mi gue habis. Sampe gue ngantuk juga kalau perlu.”

“Berarti cerita gue bikin bosen, ya? Bisa sampai ngantuk,” selorohku sambil memutar otak, mencari sesuatu yang dapat kuceritakan.

“Nggak, suara lo meninabobokan soalnya. Hahaha.”

“Yee. Dasar. Ngomong-ngomong, gue nggak punya cerita. Lo mau denger gue main harmonika aja, nggak?”

“Dengan senang hati.”

Aku meraih harmonika yang kusimpan di laci mejaku. Sebenarnya, sama sekali tak terpikir olehku untuk bermain harmonika, namun tiba-tiba ada serentetan nada yang mengusikku. Sambil mengepit instrumen itu di mulutku, aku meletakkan ponselku di depan mulutku lalu mulai bermain.

“Gimana?”

“Kayak jingle susu murni yang  suka lewat di jalanan, hahaha!” tawanya.

“Kurang ajar,” tukasku masam.

“Nggak sih, sebenernya nggak kayak jingle itu. Gue cuma bingung aja harus mendeskripsikannya gimana. Soalnya… aneh, ya, aneh. Aneh kayak rombongan sirkus keliling di dongeng-dongeng, jam tua yang berdentang tiga belas kali tapi hanya di waktu tertentu, halaman-halaman tersembunyi di deep web… ya… aneh, The.”

“Oh ya?” aku tertawa kecil mendengarnya. Ia selalu punya cukup banyak metafora untuk menggambarkan situasi apa pun; cukup banyak untuk selalu membuatku tercengang akan seberapa liar isi kepalanya.

“Ya…” Ia tertawa mengekor, sepertinya tak yakin harus tertawa karena apa namun ingin tertawa saja mendengar tawaku. “Dari mana tuh memang, inspirasinya?”

“Dari beberapa saat setelah pembicaraan kita berlangsung.”

“Ooo. Berarti, kita aneh, ya.”

“Itu pertanyaan atau pernyataan?”

“Pernyataan,” tawanya.

“Ya… mungkin itu ada benarnya. Tapi gue lebih suka bilang kalau kita hampir selalu terjebak dalam situasi-situasi aneh. Buktinya, keseluruhan isi pembicaraan kita sekarang aja aneh.”

“Tapi lo menikmatinya, kan?” godanya. “…seperti gue menikmati menjadi aneh bersama lo,” imbuhnya lagi.

“Tentu, lah. Siapa bilang gue nggak suka?”

“Memang ya, Tuhan bekerja dengan cara yang aneh. Dia menjadikan keanehan sebagai hal yang melekatkan kita.

Yang mana… aneh juga, tapi surprisingly, I don’t mind. Oh, look, the abundance of ‘aneh’ here.”

“Ya. Gue menikmati setiap situasi aneh bersama lo, Stara.” Aku senang menyebutkan nama depannya dan selalu mencari momen yang pas untuk mengatakannya.

Ia tertawa terbahak-bahak. “Me too, Artheo. Me too.”

Panggilan masih tersambung, namun kami diam selama beberapa saat. Setiap kali hendak berbicara, yang mampu keluar hanya dengusan yang berujung tawa.

Akhirnya, ia buka suara lagi, “Theo, lu bisa main harmonika pakai hidung, nggak?”

Apa yang malaikat lakukan saat mereka sedih?

Aku tahu, Ibu tidak suka aku menanyakan sesuatu yang aneh. Aneh pun sebenarnya hanya kualitas yang subjektif; parameter aneh buatku adalah ketika kening Ibu sudah berkedut-kedut. Mungkin bertanya-tanya, waktu hamil dia dulu saya ngidam apa, ya?

Namun, kali ini tanda tanya di benakku tak dapat dibendung lagi. Aku hanya ingin tahu, Ibu, apa yang malaikat lakukan saat mereka sedih?

Aku melihat kening ibu kembali berkedut-kedut. Namun, kali ini ia tidak langsung memalingkan wajahnya. “Nanti, kalau Ibu sudah tahu jawabannya akan Ibu beri tahu, ya,” ujarnya singkat. Aku melonjak kegirangan. Akhirnya, akhirnya; pertanyaan aneh pertamaku akan terjawab!

***

            Waktu itu, dua jarum jam tumpang-tindih di angka sebelas. Langit sudah berkalung bintang.

“Ibu!” seruku cepat. Aku segera meraih kakinya, karena aku memang hanya setinggi itu. “Ibu, kenapa pulang malam sekali?” Malam itu, aku melihat sesuatu pada wajah iIbu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Lelah; sama lelahnya ketika ia usai menyapu lantai seluruh penjuru rumah. Senang; kata Ayah, sama seperti wajahku saat Kakek memberiku tambahan koleksi Lego. Namun, ada satu lagi yang tidak aku kenali. Seluruh wajahnya merona merah dan matanya berair.

“Fionna!” Tiba-tiba, Ayah langsung menghambur keluar, bahkan tak sempat memakai sandalnya. Saat melihat ayahku menyodorkan kedua tangannya, tangis ibuku pecah seketika. Ia terisak-isak di pelukan Ayah. Aku semakin bertanya-tanya, tanganku masih mencengkram kaki Ibu.

“Kevin,” ujarnya sambil menarik napas cepat-cepat.

“Kamu nggak apa-apa, kan?” ujar ayahku khawatir, ia memindai Ibu dari ujung rambut sampai kaki, matanya nyalang membelalak seperti diteror sesuatu.

“Tadi ada malaikat. Aku selamat, semua karena dia.” Malaikat?

“Ibu, malaikat itu apa?” desakku sambil menepuk-nepuk kakinya. Aku tak pernah ingat satu pun waktu ketika Ayah dan Ibu tidak menjawab pertanyaanku. Bahkan, ketika apa yang kutanyakan dalam bahasa yang mungkin tak mereka pahami. Atau ketika aku bertanya sesuatu yang sudah pernah mereka jawab untukku.

Kali itu, mereka diam; tenggelam dalam tatapan satu sama lain.

***

            Setelah malam itu, Ibu tidak keluar dari rumah lagi berhari-hari setelahnya. Ia lebih sering berkutat di ruang baca dan di depan televisi. Sering juga kutemui ia berada di balik telepon, membicarakan topik yang tidak kumengerti dengan banyak orang. Sebaliknya, Ayah jadi lebih sering keluar dari rumah. Kadang, ia membawakan makanan cepat saji untuk makan malam. Lalu, aku akan melirik Ibu, yang biasanya tidak pernah mengizinkan aku makan ayam tepung atau burger. Ia ikut makan bersama kami di meja makan.

Malam itu, kami bertiga lengkap, duduk mengitari meja makan. Ini adalah hari ketiga kami makan burger untuk makan malam. Selama itu pula aku terus menahan diri untuk tidak bertanya-tanya soal malaikat lagi kepada Ibu. Sudah kujelajahi seluruh koleksi bukuku, mereka menjelaskan malaikat sebagai gadis-gadis berkulit sewarna pualam dan bergaun putih yang membawa lingkaran emas di atas kepalanya. Memang, ada ya, yang seperti itu di kotaku?

Sementara tangan kananku memegang burger, tangan kiriku berada di bawah meja, meraba ilustrasi malaikat yang ada di buku cerita favoritku. Mungkin, mereka benar-benar nyata?

“Bu, malaikat itu apa?” Aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Rasanya seperti aku baru saja melempar sekeping koin ke dalam sumur.

Untuk pertama kalinya, Ibu menoleh ke arahku. Lalu tersenyum. Saat Ayah mengulurkan tangan untuk menggamit jemarinya, ia terkikik geli. “Sayang, malaikat di sini bukan seperti apa yang ada di buku-bukumu. Ini seperti… kiasan?” ujarnya sambil menoleh kepada Ayah.

“Y-ya, ya, ibumu lah, yang pandai menulis. Ayah kan, bisanya main musik. Tapi, kami selalu menggunakan istilah “malaikat” untuk menggambarkan seseorang yang sangat baik. Seseorang yang selalu menolong orang lain, menghibur orang lain, selalu ingin menjaga kedamaian—“

“Jadi, Ibu baru ditolong seseorang?” potongku cepat. Ayah mengangguk sebelum ibu dapat merespon apapun. “Ibumu baru pulang dari kantor, lalu… seseorang mengajaknya pulang dengan motor. Karena… di depan kantor sedang… banyak orang berkumpul.” Ibuku mendelik cepat dan wajahnya tidak bahagia lagi. Kedua mata sipitnya dikatupkan sebelum ia menghela napas panjang.

“Jadi… malaikat selalu menolong orang?” tanyaku lagi.

“Ya, bisa dibilang begitu.”

“Dia selalu membuat orang sedih menjadi senang?”

“Iya, sayang. Sekarang habiskan burgermu.”

***

            Rasanya, sudah lewat beberapa hari setelah malam itu. Hari ini, pertama kalinya aku melihat Ibu membawa tas cokelatnya lagi. Di tangan kanannya ada plastik berisi kertas-kertas, seperti biasa. Aku sedang meletakkan sebuah balok kecil untuk menyempurnakan menaraku saat ia keluar dari kamar. Ia duduk di lantai sambil memakai sepatunya di sebelahku. “Sayang, besok kamu sudah masuk sekolah lagi, ya. Hari ini, puas-puasin dulu mainnya!” Aku tertawa geli mendengarnya.

“Hari ini, Ibu pulang lebih awal,” sahutnya saat sudah berdiri di mulut pintu.

Lalu, ia menoleh ke belakang. “Apa, ya… tadi Ibu mau bilang sesuatu.”

Aku membelalak penuh semangat. Saat ayah dan ibuku ingin bilang sesuatu, biasanya mereka punya kabar baik.

“Oh, ya… tentang malaikat yang sedih.” Ia menarik napas sejenak. Mungkin, sedang mencari kata. “Kamu tahu, Nak, tidak semua makhluk dapat menjadi malaikat. Eh, bukan, malaikat sendiri adalah makhluk.”

“Lalu… malaikat punya sayap, iya, kan?” Aku mengangguk dalam-dalam.

“Itu karena mereka sangat baik. Mereka dihadiahi sayap oleh Tuhan karena mereka sangat baik. Mereka membuat semuanya bahagia. Namun, itu bukan berarti mereka tak pernah sedih.

Saat malaikat sedih, mereka akan… memeluk diri mereka sendiri dengan sayapnya.” Ibu lalu memeluk dirinya sendiri erat-erat  dengan kedua tangannya. “Lalu, mereka jadi bahagia.”

“Wah, romantis sekali, ya.” Ayah tiba-tiba muncul dari balik pintu, menyeringai. “Tapi, sudah jam segini, nih. Nanti kau telat ke kantor. Nak, pagi ini Ayah mau antar Ibu dulu, ya. Tidak lama, kok.”

Mereka berebut mencium pipiku sebelum menjauh dari ambang pintu.

“Ibu!” seruku cepat. “Kalau aku jadi anak baik, apa aku akan dapat sayap juga?”

Ibuku tersenyum kecil. “Mungkin saja, Nak.”

 

Jakarta, 1998

 

A/N: ini sebenernya buat tugas suatu matkul, terus temanya tentang perdamaian HAHA (kata temen gue “kalo dicocok-cocokin nyambung kok”) tapi yaudalah gue end up liking it jadi biarlah begini saja:(

Anyways, salah satu kebiasaan gue adalah bikin pair yang biasanya sih bakal gue pake berulang-ulang di cerita lain. Karakter Kevin Wiranata dan Fionna Wei ini pertama gue bikin pas kelas 10 (buat tugas juga) dan sampai saat ini mereka udah muncul di sekitar empat sampai lima cerita. Dua hal yang pasti adalah nama mereka dan Kevin yang seorang musical prodigy.

Beatrice

When I was in high school, I had a friend who liked to sit in the back of the class. She was the kind of friend who looked alone but was not alone.

And Beatrice was her name.

.

I didn’t know whether there were people who actually tried talking to her, but I know this roaming issue about her. Beatrice liked writing.

It went off the like-ry line, she practically was drowned. She lingered in between the words and phrases;

she enclosed herself with rhymes;

she confined herself in lines of overflowing flowery dictions. She did it all of her own free will—and no one knew exactly why.

.

I was sitting during a lecture when someone tugged my shirt from behind. I looked back; my friend handed me a crumpled piece of torn notebook paper. “From Beatrice,” he whispered.

Hearing the name Beatrice made me shrugged uneasily, yet curiously. The wrinkled paper that was now in my hand just peaked the curiosity. Really, Beatrice?

Finally made her way out of solitude?

“Thanks,” I whispered back. I was about to free the message when he tugged me again.

“It’s not you; it’s for her.” He pointed my friend who sat beside me. She was as awkward as me, receiving the message. She kept glancing to Beatrice in the back before she made her way in.

“Do not tell anyone, she said,” he added.

.

The next day, more people got crumpled notes from Beatrice. And even more on the day after. I saw them.

Beatrice started handing them over in the morning, during lectures, at recess, before P.A., at the bus stop, during the long queue at canteen; literally everywhere and every time. She handed them with nothing weighed upon her face. Her smile was a line; as if her emotion was not spilled yet—it only masked the air.

And no one told anyone about what Beatrice wrote for them. Whether it was a personal thought, or a wrath-filled message, or a love letter, I didn’t know. What I knew was ever since that day, everyone in my class started to glance more to the back of the class.

It seemed that I was the only one not getting any message from Beatrice (yet?) and it just got my curiosity sprung wilder.

I had to admit that I kinda want one.

Did Beatrice spare one left for me?

.

This afternoon, my feet took me to the seat at the back.

Beatrice’s.

The air was so still; lots of question marks were hanging above us. Curiosity deepened while fear pushed me back, but nevertheless, I found myself kept walking. And my faint steps echoing.

Beatrice lifted her head. Again, she was with that smile.

But now, she handed me a piece of paper.

Maybe, I looked like I hesitated.

“You looked like you’ve been waiting for it,” she finally spoke up. Her voice was like smoke coming out from a rural chimney—subtle and warm. I took the paper; I didn’t deny it.

For that was what I did this entire week. Waiting for it.

.

            When your thirst felt like drought,

            And a glass of water came to the rescue

 

            Just a glass

            But you decided it was enough

            And therefore, you were fulfilled

.

I turned my head to Beatrice, asking for explanations. “Is this what you send to everyone?”

She shrugged her shoulders. “Yes, but no.

I meant to say something in general, but in different ways.”

“And, that was…?”

She gulped a long pause.

A long, long one.

“I recently defined happiness by my own. It was such a time of revelation, I felt like I had solved an enormous question thrown to human being this whole time. Happiness was so inexplicable for centuries, so when I really understood it…

it was satisfying. And I want everyone to know that.”

She was sure pushing me—she wanted me to ask.

Her eyes were gleaming with spirit.

“And what does it mean to you?”

She showed me that smile again. Now, I became perfectly sure and aware.

“To me, happiness is feeling enough.

And by the term enough, you are the one to decide. ”

.

“Aren’t you gonna find one, too?”

“What, for exact?”

“Yours.”

I kept that memory to fund my search, until now.

 

A/N: terinspirasi dari all this wishy-washy about philosophy and happiness yang diprovokasi oleh rekan Sabila Bahrain, terima kasih.

I was also thinking about Lemony Snicket’s Beatrice and Bread’s Aubrey at the same time; thank you, they are beautiful.

Melewatkanmu

coffeeandtv:

Halo, aku adalah seseorang di balik username coffeeandtv ini. Namaku Adrian, dan kepentinganku di situs pencarian pasangan ini bukanlah untuk menemukan belahan jiwa. Sesungguhnya aku hanya sedang mengisi waktu di antara saat ini dengan tenggat waktu pengumpulan skripsi; karena, ya, aku serajin itu. Menyelesaikan skripsiku sebelum batas pengumpulan bergema.

Aku kembali memainkan handphone-ku seraya sesekali melirik ke arah limunku yang mulai menggelegak dipenuhi lelehan es dan ke arah sebuah buket bunga yang kuharap tidak segera layu. Hari ini, aku akan segera bertemu dengan sosok yang kukenal lewat situs tersebut!

Situs pencarian pasangan memang sebuah hal yang aneh—benar apa kata temanku—karena kenyataannya, tak semua orang di situ sedang mencari pasangan. Sejauh ini, aku telah menemukan seseorang yang memasang batu bata sebagai display picture-nya (mungkin dengan harapan mencari seseorang yang tidak melihat fisik), ada pula yang terlalu desperate untuk menemukan seseorang yang dapat digandengnya saat wisuda.

Dan ada pula gadis ini; gadis dengan username virtualinsanity. Seseorang yang tak kuduga akan kutemukan di antara jutaan orang lainnya, di situs ini. Gadis itu bahkan tak memasang wajahnya sendiri sebagai display picture, namun aku yakin dia adalah orang yang selama ini kucari.

Kami dipertemukan oleh jaringan tersebut atas dasar minat yang sama, yaitu lagu. Aku meliriknya karena username yang dipakainya—Virtual Insanity adalah salah satu hits terpopuler dari band Jamiroquai, dan lagu itu telah menjadi favoritku selama bertahun-tahun lamanya. Dengan malu-malu gadis itu juga mengakui bahwa ia menilaiku dari username-ku; coffeandtv.

“Itu lagunya Blur, kan? Gue suka banget Blur, hehehe.”

Intensitas waktuku berlayar di situs tersebut pun meninggi. Setiap hari, rasanya ada setidaknya satu hal baru yang kuketahui tentangnya. Ia lebih suka roti bakar dengan selai kacang daripada selai stroberi, ia punya takaran sirup vanila rahasia saat berada di Starbucks, ia memelihara tiga ekor kucing persia, dan ia seorang aktivis LGBT.

You know, coffeeandtv. Terlepas dari apapun keyakinan gue, gue percaya kalau seseorang bebas untuk memilih kepada siapapun ia akan menjatuhkan hatinya,” ketiknya.

Sementara aku? Aku… bisa dibilang, aku homophobic.

“Tapi… tapi gimana ya, nggak enak aja gue ngeliatnya. Itu kan menyalahi kodrat Tuhan. Bukankah wanita dan lelaki diciptakan berpasang-pasangan?”

“Tapi kenapa Tuhan menciptakan kaum gay dan lesbian?”

“Tuhan nggak menciptakan mereka, mereka ada karena pengaruh lingkungan sosial.”

“Lalu lantaskah kalau mereka ada, mereka tidak punya kesempatan untuk menikah? Melanggar hak asasi, dong.”

Dan pada akhirnya, aku harus memutar otak lagi untuk membalas semua argumennya. “Ya, ya. Gue kalah (lagi).” Ia lalu mengirimkan sticker karakter yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Say, coffeeandftv. What’s your objective in making this account here?” tanyanya, seraya mengalihkan perhatian.

Tujuanku apa?

Tujuanku adalah untuk mengisi waktu luangku—mungkin dengan menggoda gadis-gadis atau mengobrol panjang lebar. Atau menemukan orang-orang aneh di sini. Tapi itu semua adalah tujuanku… sebelum aku memutuskan untuk menyapamu, virtualinsanity.

Dengan susah payah, aku menelan ludah lalu mulai mengetik. “Like… looking for a girlfriend? Belum kepikiran buat serius, tho. And you?”

“Wah, sayang sekali. Gue cuma niat cari temen ngobrol di sini sebenernya, hehe.”

Rasanya setangkai harapan yang membuncah di hatiku telah remuk dan patah. Seperti peluangku untuk lebih dekat dengannya satu langkah terenggut tanpa sadar. Akhirnya aku membalas, “Hahaha! Geer amat lo, emangnya tipe gue orang kayak lo?”

Apa kau benar-benar menyukainya, Adrian?

.

Sudah mendekati dua bulan kami saling kenal. Dan semakin hari, virtualinsanity semakin menyenangkan saja. Terlalu menyenangkan hingga aku lupa bahwa objektifnya di sini hanya untuk mencari teman bertukar kata.

Kalau kukenang lagi keadaanku bertahun-tahun silam, aku belum pernah merasakan sesuatu yang seaneh ini. Jatuh hati pada seseorang, bahkan sebelum bertemu pandang dengannya? Pasti ada sesuatu yang berbeda darinya. Praduga yang asal-asalan itu semakin menguatkan tekadku; aku akan menyatakan perasaanku padanya!

Malam itu, usai kami bertukar link jokes-jokes receh di 9GAG, aku langsung mengeluarkan pernyataan.

“Heh, gue punya sebuah pernyataan. Tapi nggak seperti pernyataan gue yang biasa-biasanya, yang sebatas omongan di mulut dan banyaknya ngelawak.”

“Wah, apa itu?”

“Pernyataan ini dari hati gue yang terdalam. Jangan marah, ya tapi,” ketikku ragu-ragu, “I like you, and I never feel this way before. Shall we go out?”

Sesuatu yang sudah kuduga, virtualinsanity seolah menghilang selama satu jam setelah aku mengetik opsi “kirim”. Dan selama itu juga, pikiran-pikiran aneh melintasi benakku. Mungkin dia sudah punya pacar, mungkin dia harus minta izin pada ibunya dulu jika ingin pacaran, atau mungkin dia sedang berusaha memilih di antara aku atau seseorang lainnya?!

“Hai, coffeeandtv,” ujarnya tiba-tiba. “Maaf sekali gue harus bilang ini, tapi sebenernya… I’m currently in a relationship. Makanya waktu itu gue bilang ke elo, objektif gue cuma buat cari temen ngobrol. I’m so sorry, I can’t return back your feelings.”

Ha, ha.

Iya, aku tahu kok. Mendadak aku ingin log out saja, aku merasa dua kali lebih bodoh.  Sudah sadar akan tujuannya di sini, kenapa aku berani sekali menyatakannya? Adrian, memang dari awal kau sudah salah langkah.

“Hahaha, nggak papa, kok. Tapi bisa nggak kita ketemu? Gue cuma pengen ngeliat lo secara nyata.”

Kali ini virtualinsanity heing lebih lama lagi.

“Lo harusnya ngelupain gue.”

“Tapi gue pengen banget ketemu sama lo, gimana dong?”

“ Gue nggak mau. Gue takut lo marah, lo kecewa. Gue kan, udah punya pacar.”

“Enggak bakal. Gue udah tahu tujuan lo di sini buat cari temen soalnya.” Lalu ia hening kembali, jauh lebih lama.

“Bener, ya?”

“Iya.” Aku berusaha menjawab sejantan mungkin sebelum akhirnya menjatuhkan diri ke kasur, berguling-guling tak karuan. Sekarang, semuanya bias.

.

Risih memandangi gelas limunku yang mulai berair, akhirnya aku menyesap isinya sedikit. Bersamaan dengan itu, bel angin di pintu kafe berdenting lembut. Ada yang masuk!

Aku segera merapikan kerah bajuku, lalu menyembunyikan buket mawar itu di belakangku. Mungkin ini bukanlah pertemuanku untuk mendapatkan hatinya, namun aku yakin pertemuan ini diperlukan untuk memberikan kesan terakhir yang baik (aku bersumpah akan segera menghapus akunku setelah ini).

Orang yang tadi masuk bersama denting bel angin mendekatiku. “Lo coffeeandtv, kan?”

Saat itu aku sadar bahwa virtualinsanity benar, seharusnya detik itu juga aku menghapus akunku. Menghapus memori dalam otakku bahwa aku tidak punya kenalan bernama virtualinsanity sebelumnya. Bahwa virtualinsanity bukan gadis yang selama ini kucari.

.

Sudah lewat dua hari dari pertemuanku dengan virtualinsanity.

Seharusnya aku telah melewatkannya saat itu, seharusnya aku bahkan tak perlu mengingat username-nya lagi atau bahkan mengajaknya bertemu di kafe. Saat aku melihat senyumnya, aku merasakan sesuatu yang lebih aneh lagi dibandingkan cinta, sesuatu yang bagiku tak dapat dijelaskan lebih jauh lagi. Memilih untuk jatuh lebih dalam kepadanya sama dengan menyalahi semua pernyataan yang telah kubuat dan kujatuhkan atas diriku sendiri.

Sepertinya, aku benar-benar jatuh cinta.

Malam itu aku menangis keras-keras. Sepertinya, aku bukan Adrian yang sebelumnya kukenal.

 

 

virtualinsanity:

Namaku Damar.

.

A/N: Cerpen awal 2016. Cliche twists are nice, most of the time.

crooked bus

Tersiar kabar tentang bus astral itu.

Buas, menggagahi hampir setiap obrolan di kelas.

“Katanya, cuma orang-orang terpilih yang bisa naik bus miring.” Semua anak sibuk mengerumuni A, yang konon mendapat bocoran dari berbagai forum mistis. Mereka kini menghamba pada cetusan informasi yang bahkan belum terbukti kebenarannya.

“Terpilih tuh gimana?” desak B tak sabar.

“Kalau dari yang pernah gue baca, bus miring itu diperuntukkan buat orang-orang yang bermasalah.” Pasangan-pasangan mata itu membulat, lalu saling berpandangan. “Masalah seperti apa?”

A hanya menaikkan bahunya. “Entah.

Mereka bilang, lo harus sangat bermasalah buat bisa melihat bus miring. Dan kalau lo bisa melihat, lo bisa naik.”

Sekali lagi, mata-mata itu melebar. Mungkin mereka sama sekali tidak berpikiran untuk menaikinya, namun setidaknya cakrawala mereka terbentang semakin jauh dengan ilmu mistis ini. Karena—ya, sebenarnya, mereka yang amat membutuhkan akses menuju bus miring bahkan tidak perlu bertanya.

.

“Gue yakin.” Dia berbisik amat pelan dari ujung sambungan, seolah kami sedang bermain kuda bisik. Aku mulai merasa jengah. Orang waras macam apa yang yakin untuk dibawa pergi selama-lamanya kecuali dia memang ingin mengakhiri hidup? Aku dapat mendengar suara-suara geliat tak nyaman dari balik telepon. Sepertinya, ia tak punya jalan lain.

“Jadi, apa yang akan lo lakukan malam ini? Menunggu bus miring di halte?” Aku berusaha tertawa kecil untuk mencairkan suasana.

“Nggak,” Dia berhenti sejenak, “bus miring tidak ditunggu. Ia akan datang sendiri kepada orang-orang yang terpilih.” Aku menelan ludah.

Rasanya ingin sekali aku mencegahnya. Mungkin dengan berlari ke rumahnya lalu mengunci seluruh pintu dan menyegel jendelanya, agar ia tak dapat melihat kedatangan bus miring.

“Tapi, lo tau—lo bisa memilih buat naik atau tidak, kan?” Dengan hati-hati, aku berusaha memilih kata-kata. Mungkin sesaat lagi ia akan kembali mengulang alasan yang sama. Bahwa masalah kejiwaan adalah hal yang serius dan tidak dimengerti kebanyakan orang.

Kadang, aku merasa lebih suka melihatnya menggoreskan mata silet ke permukaan kulitnya dibanding terus-terusan berinisiatif bahwa bus miring akan memilihnya. Hal itu terasa lebih logis, meski keduanya bukan jalan keluar yang tepat.

Dia menarik napas panjang. “Jay, kita sudah bicarakan ini. Gue akan naik.

Bus miring akan berkeliaran sekitar pukul sembilan malam, pada tanggal-tanggal genap di minggu terakhir setiap bulan. Malam ini gue mau berbenah.” Lalu terdengar suara gemerisik bahan parasut sebagai latar. Dan klontang termos dengan permukaan meja.

Sial! Aku berusaha memutar otak.

“Kenapa lo masih beres-beres kalau lo tahu naik bus miring sama dengan mengakhiri hidup?”

Aku dapat mendengar dia membanting tasnya ke kasur. “Gue nggak tahu, Jay.

Ya, mungkin bus itu akan membawa gue ke liang kubur. Tapi, mungkin juga ia akan membawa gue ke tempat yang lebih baik. Di sana gue bakal lupa semua masalah gue dan lo nggak harus mencegah gue berbuat suicidal lagi.”

“Lo tahu rute bus itu?” desakku lagi.

Are you going to follow me? Because you can’t.

“Lewat mana busnya?” ujarku lagi, berusaha terdengar seindimidatif mungkin.

Dia berdecak sebal sebelum kembali buka suara. “Highway to nowhere. Dia akan lewat situ, tapi tidak ada yang tahu tujuan pastinya.”

“…Highway to nowhere?” ulangku, seperti berbicara pada diriku sendiri.

“Itu jalan tol,” jawabnya cepat. Dan ketus.

Namun, ia terdengar seperti masih ingin memberi penjelasan.

“Ya,” ujarku lamban, sambil mulai mengetik beberapa kata kunci di situs pencarian, “itu memang terdengar seperti jalan tol.”

“Jalan tol biasa, tapi tanpa penerangan dan papan penunjuk rute. Satu-satunya pencahayaan adalah lampu kendaraan yang kita tumpangi. Katanya, saat lo melalui jalan itu, lo akan merasa sudah tahu mau ke mana.

Di sana tenang sekali. Mungkin, itu satu-satunya saat di mana lo menikmati terkungkung begitu saja dalam gelap dan kesendirian.”

Masih sambil menyimak, aku melirik layar laptop yang menampilkan beberapa hasil pencarian untuk kata kunci ‘highway to nowhere’. Memang tidak ada gambar yang menjelaskan tempat itu secara nyata, namun ada beberapa ilustrasi yang dibuat berdasarkan kesaksian.

Apa mungkin ada orang yang bisa selamat setelah melalui highway to nowhere?

“Jay?”

“Ya?” jawabku buru-buru.

“Ini sudah mau jam sembilan.” Ia berbisik lamat-lamat. “Dan mungkin, akan jadi percakapan kita buat yang terakhir kalinya.

Gue mencoba mencari saat yang tepat buat ngomong ini tapi ya… rasanya nggak akan pernah ada.

Gue selalu suka lo, Sanjaya.”

Aku tersenyum kecil. “Gue tau.”

I hate you.” Dia menutupnya dengan gelak tawanya yang renyah. “Meskipun lo nggak pernah ngerti masalah gue, tapi lo pendengar yang baik.

Sampai jumpa Jay, di lain kesempatan.” Sambungan telepon ditutup.

Detik itu juga, aku blingsatan melihat ke sekeliling ruangan. Masih ada sepuluh menit lagi sebelum jam sembilan. Aku langsung meraih jaket parka yang tergantung di balik pintu, lalu memadatkan dompet dan powerbank ke dalam sakunya.

Persetan kalau aku tidak cukup bermasalah untuk melihatnya.

Aku punya masalah;

sahabatku berkeras untuk pergi dengan bus itu sementara nada suaranya berkata,

“Selamatkan aku.”

.

A/N: Probably is one of my favorite works! Will be edited soon after I start my study (reading psychology handbooks and Dr. Frost is not enough, tho).

Mawar Merah

I’m not really good at writing romance but this time I’m quite proud of my work. :^)

.

“I choose to love you in silence, for in silence I found no rejection.” -Anonymous.

Ini adalah minggu kedua kegiatan social project. Yang berarti, hari ini adalah hari perpisahan.

“Yaah, nggak bisa ketemu dedek-dedek unyuh lagi…” Ditto mengeluh kecewa sambil menendang-nendang kerikil dengan gontai. “Dulu kita yang ogah-ogahan sama kegiatan ini, akhirnya kita kangen juga ya…” Citra mengimbuhi sambil tertawa kecil.

“Hari ini ada kegiatan apa?” Adit bertanya antusias. “Nggak tahu… yang nyiapin acara katanya dari pihak sekolah. Tapi mereka nge-LINE gue tadi… I heard something about flowers?” Fauzan menjawab tanpa melihat ke arah Adit, tatapan matanya terkunci ke layar handphone-nya. “Ealah Ojan, jalan jangan sambil mainan handphone. Nanti Citra nyusul, kok,” ujar Rahma sambil menyikut bahu Fauzan main-main. “Berisik!” Fauzan menghalau tangan Rahma, lalu memalingkan wajah untuk menutupi wajahnya yang sewarna rubi.

.

Aula besar telah disulap dengan sangat meriah. Balon-balon dan kertas krep aneka warna digantung di seluruh penjuru ruangan, sementara di pinggir ruangan ada meja panjang berisi aneka hidangan. “Wah… jadi ngerasa nggak enak kalau dijamu begini. Harusnya kan, kita yang ngelayanin mereka,” gumam Teuku sambil meletakkan tasnya. “Hai! Kalian baru sampai?” Tiba-tiba, sebuah suara tenor menyapa mereka. “Ah, Kak Garuda. Baru sampai, Kak. Tapi masih nunggu temen kita yang satu lagi, dia ada kegiatan OSIS, hehehe,” Aulia menyapa Kak Garuda antusias, “Mana anak-anak yang lain, Kak?”

Kak Garuda tersenyum ambigu. “Mereka ada di suatu tempat… nanti pasti ke sini juga, kok. Sambil menunggu waktu, kalian boleh menikmati hidangan yang ada di meja panjang. Kalian pasti capek!”

Pucuk dicinta ulam tiba, Ditto dan Teuku langsung menyerbu meja tersebut dan segera memenuhi piring mereka dengan berbagai makanan. “Eh, lo harus cobain yang ini. Sumpah, enak,” Ditto menunjuk ke arah sebuah piring besar sementara mulutnya dipenuhi makanan. “Dasar tukang makan,” Rahma menggerutu, mungkin merasa terganggu karena saat ini ia berstatus diet siaga 4. Vana hanya mengangguk-angguk mengiyakan, sementara di tangannya tergenggam segelas cocktail.

“Guys, gue keluar bentar. Mau… jemput Citra,” ujar Fauzan terburu-buru. “CIE! OJAN! Citra aja dijemput, gue ditinggal pas lagi ngantre di McD buat lo!” Ditto menyumpah-nyumpah.

.

.

“Ya, kakak-kakak; kalian sudah tahu bunga-bunga ini akan diapakan?” Kak Garuda tersenyum penuh arti kepada mereka. Vana memandang bunga-bunga di tangannya. Ia mendapat setangkai mawar putih, seikat bunga pir, 2 tangkai mawar merah muda, dan setangkai mawar merah. Semua anak di dalam ruangan juga memegang 4 macam bunga yang sama. “Enggak, Kak.”

“HAHAHA! Baguslah kalian nggak tahu. Karena kita akan memainkan… Say It With Flowers. Kalian akan mengungkapkan sesuatu yang disimbolkan oleh bunga-bunga ini kepada seseorang.” Kak Garuda berceloteh semangat sambil menerjemahkan ucapannya ke dalam bahasa isyarat dengan kedua tangannya. “Wah! Kedengerannya seru, Kak. Yaudah, kita mulai aja Kak!” seru Ditto songong.

Mungkin saat itu, beberapa dari mereka berharap mendapatkan satu atau lebih bunga dari orang lain.

“Karena hari ini adalah perpisahan, semua bunga-bunga ini akan kita berikan untuk… kakak-kakak sukarelawan yang telah menemani kita selama dua minggu terakhir ini!” Kak Garuda menyimbolkan bahasa isyarat untuk tepuk tangan dengan kedua tangannya. Ruangan itu riuh rendah oleh derai tepuk tangan. “Ah, Kak Garuda so sweet banget, sih.” Fauzan nyaris terharu.

“Langsung kita mulai, ya. Kita akan berikan bunga mawar putih… untuk kakak terbaik!” Serentak, anak-anak itu langsung maju dan memberikan bunga mereka kepada seorang kakak yang mereka anggap paling baik. Vana tertawa kecil saat seorang anak yang ia kenal menyodorkan setangkai mawar putih ke aranya. “Ah, terima kasih ya, Bunga.” Ia mengelus lembut kepala anak itu.

Sejauh ini, Aulia memperoleh mawar putih terbanyak. Begitu banyaknya sampai ia harus meletakkannya di bawah. Ia berkali-kali menunduk canggung, gesturnya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat. “Kakak-kakaknya juga boleh saling memberi, lho!” Sekali lagi, Aulia dihujani mawar putih.

“Selanjutnya, bunga pir untuk… kakak terfavorit!”

Tak diduga, Ditto mendapat perolehan bunga pir terbanyak. Disusul oleh Teuku. “HAHAHA, GUE EMANG TERFAVORIT GUYS!” 6 orang lainnya yang pada awalnya berniat untuk memberikan seikat bunga pirnya kepada Ditto, langsung mengurungkan diri.

“Bunga mawar merah muda, untuk kakak yang paling cantik dan tampan!”

“Yaelah, ini mah udah ketebak!” seru Ditto gusar. Citra menerima begitu banyak mawar merah muda, begitu pula dengan Adit. “Hehehe, makasih ya. Jadi malu,” Adit menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Sementara Ditto dan Fauzan mengeroyok Teuku yang dengan tak terduganya berhasil mendapatkan setangkai mawar merah muda.

“Ini… buat kamu.” Aksi pengeroyokan Fauzan dihentikan oleh Citra yang menarik bajunya perlahan. “Eh…”

“CIEE!” Mereka berlima ramai bersorak, bahkan Kak Garuda dan semua anak ikut memanas-manasi. “Berisik!” hardik Fauzan kesal, sementara wajahnya tak karuan. Ia segera menyelipkan setangkai mawar merah muda ke tangan Citra, sebelum massa mengejeknya lebih parah lagi.

“Dan bunga mawar merah… untuk kakak yang paling kalian suka!”

Perolehan bunga mawar merah untuk setiap orang bervariasi, dan tak ada yang tampak menonjol. Ya, semua boleh berbangga. Terutama Ditto dan Rahma.

Dan sekali lagi, Fauzan dan Citra menukar bunga mereka. “Duh, panas nih jadinya, dunia serasa milik berdua,” sindir Rahma sambil mengipasi wajahnya. “Kasian banget, lo Rah. Nggak ada yang ngasih mawar merah banget, ya?” ejek Fauzan sambil menjulurkan lidahnya.

Vana baru saja hendak meletakkan kumpulan mawar merah yang ia peroleh, saat tiba-tiba Adit menghentikannya.”Yes, kenapa?” Adit menggaruk bagian belakang kepalanya, kedua matanya menghujam lantai.

“Van… eh…

…lihat gue.” Adit mengangkat kepalanya, mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Ia lalu membentuk bahasa isyarat dengan kedua tangannya yang bergetar. Vana menerjemahkannya perlahan dalam hati.

Aku suka kamu.

Suka,

suka sekali.

Vana terlalu kaget untuk menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Adit semakin khawatir melihat Vana diam saja dan tidak bereaksi, sementara wajahnya semakin tak karuan. Mungkin bahasa isyarat gue salah. Mungkin dia nggak ngerti. Mungkin…

Akhirnya, Adit mengambil semua mawar merah yang ia peroleh. Ia menyodorkannya kepada gadis itu.

Suka sekali.

Vana menutupi wajahnya yang seperti terbakar. Seperti ada jutaan atom-atom yang bergetar dalam dirinya. Meronta-ronta. “Sepertinya… ada sesuatu, ya,” Kak Garuda menyela momen itu dengan suara terpelannya.

.

“Maaf, tadi… gue lancang.” Adit berucap sepelan mungkin. Vana masih menunduk. Mereka menghabiskan saat-saat terakhir di lembaga itu dengan berbincang bersama angin di taman belakang. Sementara Ditto dan Teuku sepertinya masih berusaha menghabiskan buffet di dalam.

“Bukan salah lo, kok.”

Vana terdiam sejenak, lalu menarik keluar setangkai mawar merah dari sakunya. “Buat lo.”

Adit meraih bunga tersebut. Namun rasanya ia ingin lebih lama menyentuh jemari gadis itu. Ia menarik gadis itu mendekat, kedua jemari mereka bertautan. Rasanya Vana dapat mendengar detak jantungnya yang tak beraturan.

“Gue punya pertanyaan.

Kenapa lo selalu jalan di depan gue? Lo mau tahu sesuatu, nggak? Buat gue itu menyiksa karena hanya bisa mengagumi lo dari belakang.”

Vana memejamkan kedua matanya, roda gigi di otaknya berputar untuk mencari alasan. Alasan yang sebenarnya telah dikemukakan dalam bentuk perasaan, yang sayangnya tak mampu ia deskripsikan dengan kata-kata. Ia membuka kedua matanya saat merasakan tangan pemuda itu menyentuh pipinya.

“Gue sayang lo.” Adit menyingkirkan anak-anak rambut gadis itu dari wajahnya. Kalimat itu meluncur dengan sangat lembut, nyaris tak terdengar.

Lalu tersaru dalam gemerisik daun.

.

A/N: HAHAHA gais I hope you enjoyed it. Ini kayaknya cerpen dua tahun yang lalu, dan iya, ini semacem side story dari novel gue, Junior Days (2014). Tadinya ini salah satu bab dalam karya gue di Wattpad… tapi pada akhirnya gue sadar kalo gue bukan orang yang bisa nulis sesuatu secara runut:( I sometimes start at the end. Biar semuanya ndak bertanya-tanya, ada sedikit penjelasan:

  1. Setting-nya di SMA.
  2. Iya, Citra dan Ojan dah jadian di sini.
  3. Ini bener-bener cerita lepas, mereka ikut semacem social project di panti asuhan.
  4. Iya guys itu Adit bisa bahasa isyarat WOOW