Apa yang malaikat lakukan saat mereka sedih?

Aku tahu, Ibu tidak suka aku menanyakan sesuatu yang aneh. Aneh pun sebenarnya hanya kualitas yang subjektif; parameter aneh buatku adalah ketika kening Ibu sudah berkedut-kedut. Mungkin bertanya-tanya, waktu hamil dia dulu saya ngidam apa, ya?

Namun, kali ini tanda tanya di benakku tak dapat dibendung lagi. Aku hanya ingin tahu, Ibu, apa yang malaikat lakukan saat mereka sedih?

Aku melihat kening ibu kembali berkedut-kedut. Namun, kali ini ia tidak langsung memalingkan wajahnya. “Nanti, kalau Ibu sudah tahu jawabannya akan Ibu beri tahu, ya,” ujarnya singkat. Aku melonjak kegirangan. Akhirnya, akhirnya; pertanyaan aneh pertamaku akan terjawab!

***

            Waktu itu, dua jarum jam tumpang-tindih di angka sebelas. Langit sudah berkalung bintang.

“Ibu!” seruku cepat. Aku segera meraih kakinya, karena aku memang hanya setinggi itu. “Ibu, kenapa pulang malam sekali?” Malam itu, aku melihat sesuatu pada wajah iIbu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Lelah; sama lelahnya ketika ia usai menyapu lantai seluruh penjuru rumah. Senang; kata Ayah, sama seperti wajahku saat Kakek memberiku tambahan koleksi Lego. Namun, ada satu lagi yang tidak aku kenali. Seluruh wajahnya merona merah dan matanya berair.

“Fionna!” Tiba-tiba, Ayah langsung menghambur keluar, bahkan tak sempat memakai sandalnya. Saat melihat ayahku menyodorkan kedua tangannya, tangis ibuku pecah seketika. Ia terisak-isak di pelukan Ayah. Aku semakin bertanya-tanya, tanganku masih mencengkram kaki Ibu.

“Kevin,” ujarnya sambil menarik napas cepat-cepat.

“Kamu nggak apa-apa, kan?” ujar ayahku khawatir, ia memindai Ibu dari ujung rambut sampai kaki, matanya nyalang membelalak seperti diteror sesuatu.

“Tadi ada malaikat. Aku selamat, semua karena dia.” Malaikat?

“Ibu, malaikat itu apa?” desakku sambil menepuk-nepuk kakinya. Aku tak pernah ingat satu pun waktu ketika Ayah dan Ibu tidak menjawab pertanyaanku. Bahkan, ketika apa yang kutanyakan dalam bahasa yang mungkin tak mereka pahami. Atau ketika aku bertanya sesuatu yang sudah pernah mereka jawab untukku.

Kali itu, mereka diam; tenggelam dalam tatapan satu sama lain.

***

            Setelah malam itu, Ibu tidak keluar dari rumah lagi berhari-hari setelahnya. Ia lebih sering berkutat di ruang baca dan di depan televisi. Sering juga kutemui ia berada di balik telepon, membicarakan topik yang tidak kumengerti dengan banyak orang. Sebaliknya, Ayah jadi lebih sering keluar dari rumah. Kadang, ia membawakan makanan cepat saji untuk makan malam. Lalu, aku akan melirik Ibu, yang biasanya tidak pernah mengizinkan aku makan ayam tepung atau burger. Ia ikut makan bersama kami di meja makan.

Malam itu, kami bertiga lengkap, duduk mengitari meja makan. Ini adalah hari ketiga kami makan burger untuk makan malam. Selama itu pula aku terus menahan diri untuk tidak bertanya-tanya soal malaikat lagi kepada Ibu. Sudah kujelajahi seluruh koleksi bukuku, mereka menjelaskan malaikat sebagai gadis-gadis berkulit sewarna pualam dan bergaun putih yang membawa lingkaran emas di atas kepalanya. Memang, ada ya, yang seperti itu di kotaku?

Sementara tangan kananku memegang burger, tangan kiriku berada di bawah meja, meraba ilustrasi malaikat yang ada di buku cerita favoritku. Mungkin, mereka benar-benar nyata?

“Bu, malaikat itu apa?” Aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Rasanya seperti aku baru saja melempar sekeping koin ke dalam sumur.

Untuk pertama kalinya, Ibu menoleh ke arahku. Lalu tersenyum. Saat Ayah mengulurkan tangan untuk menggamit jemarinya, ia terkikik geli. “Sayang, malaikat di sini bukan seperti apa yang ada di buku-bukumu. Ini seperti… kiasan?” ujarnya sambil menoleh kepada Ayah.

“Y-ya, ya, ibumu lah, yang pandai menulis. Ayah kan, bisanya main musik. Tapi, kami selalu menggunakan istilah “malaikat” untuk menggambarkan seseorang yang sangat baik. Seseorang yang selalu menolong orang lain, menghibur orang lain, selalu ingin menjaga kedamaian—“

“Jadi, Ibu baru ditolong seseorang?” potongku cepat. Ayah mengangguk sebelum ibu dapat merespon apapun. “Ibumu baru pulang dari kantor, lalu… seseorang mengajaknya pulang dengan motor. Karena… di depan kantor sedang… banyak orang berkumpul.” Ibuku mendelik cepat dan wajahnya tidak bahagia lagi. Kedua mata sipitnya dikatupkan sebelum ia menghela napas panjang.

“Jadi… malaikat selalu menolong orang?” tanyaku lagi.

“Ya, bisa dibilang begitu.”

“Dia selalu membuat orang sedih menjadi senang?”

“Iya, sayang. Sekarang habiskan burgermu.”

***

            Rasanya, sudah lewat beberapa hari setelah malam itu. Hari ini, pertama kalinya aku melihat Ibu membawa tas cokelatnya lagi. Di tangan kanannya ada plastik berisi kertas-kertas, seperti biasa. Aku sedang meletakkan sebuah balok kecil untuk menyempurnakan menaraku saat ia keluar dari kamar. Ia duduk di lantai sambil memakai sepatunya di sebelahku. “Sayang, besok kamu sudah masuk sekolah lagi, ya. Hari ini, puas-puasin dulu mainnya!” Aku tertawa geli mendengarnya.

“Hari ini, Ibu pulang lebih awal,” sahutnya saat sudah berdiri di mulut pintu.

Lalu, ia menoleh ke belakang. “Apa, ya… tadi Ibu mau bilang sesuatu.”

Aku membelalak penuh semangat. Saat ayah dan ibuku ingin bilang sesuatu, biasanya mereka punya kabar baik.

“Oh, ya… tentang malaikat yang sedih.” Ia menarik napas sejenak. Mungkin, sedang mencari kata. “Kamu tahu, Nak, tidak semua makhluk dapat menjadi malaikat. Eh, bukan, malaikat sendiri adalah makhluk.”

“Lalu… malaikat punya sayap, iya, kan?” Aku mengangguk dalam-dalam.

“Itu karena mereka sangat baik. Mereka dihadiahi sayap oleh Tuhan karena mereka sangat baik. Mereka membuat semuanya bahagia. Namun, itu bukan berarti mereka tak pernah sedih.

Saat malaikat sedih, mereka akan… memeluk diri mereka sendiri dengan sayapnya.” Ibu lalu memeluk dirinya sendiri erat-erat  dengan kedua tangannya. “Lalu, mereka jadi bahagia.”

“Wah, romantis sekali, ya.” Ayah tiba-tiba muncul dari balik pintu, menyeringai. “Tapi, sudah jam segini, nih. Nanti kau telat ke kantor. Nak, pagi ini Ayah mau antar Ibu dulu, ya. Tidak lama, kok.”

Mereka berebut mencium pipiku sebelum menjauh dari ambang pintu.

“Ibu!” seruku cepat. “Kalau aku jadi anak baik, apa aku akan dapat sayap juga?”

Ibuku tersenyum kecil. “Mungkin saja, Nak.”

 

Jakarta, 1998

 

A/N: ini sebenernya buat tugas suatu matkul, terus temanya tentang perdamaian HAHA (kata temen gue “kalo dicocok-cocokin nyambung kok”) tapi yaudalah gue end up liking it jadi biarlah begini saja:(

Anyways, salah satu kebiasaan gue adalah bikin pair yang biasanya sih bakal gue pake berulang-ulang di cerita lain. Karakter Kevin Wiranata dan Fionna Wei ini pertama gue bikin pas kelas 10 (buat tugas juga) dan sampai saat ini mereka udah muncul di sekitar empat sampai lima cerita. Dua hal yang pasti adalah nama mereka dan Kevin yang seorang musical prodigy.

afterlife or oblivion?

As my grandmother lays on her death bed, thoughts upon death starts churning inside my mind.

Ever since I was a little child, I’ve always thought that death is something sacred where people mourn over the dead. When it comes to the word “death”, I immediately think about a funeral where everyone is dressed in black. Rain pours lightly, and they stand under their umbrellas to say goodbye for the last time. Favorite bouquet of flowers that symbolizes things are also put upon the tombstone. But what I see now describes almost the contrary; that death is not just a time when you’re supposed to express sadness and grief.

Death is also about management and preparation, because the dead ones can’t just be left there to finish their duties in real life in order to reach afterlife, right? Death is also a semicolon in life because when your loved one eventually stops breathing, there’s no reason to stop your life there, too.

I guess that’s the tough part in encountering death-related events.

Speaking of which, another thoughts of mine is that which one is better; having another life after death or just die into oblivion, where death means the end of everything?

Of course, having faith in afterlife actually makes people have a reason to do nice deeds. But it seems that they’re being overshadowed by the things considered sinful. There are probabilities that people might not feel have lived their whole life passionately due to gaining their ~ticket~ to a comfortable afterlife.

In another hand, dying into oblivion means that people have no worries about what kind of fate waiting there to judge how they have lived their life. But it also states that there aren’t any motivations for people to be nice other than common sense.

Unfortunately, not all people manage their common sense well (this line is after some long convos with friends) and that’s probably why, we need guidance in life.

This guidance is called religion.

bukan blog baru

Halo, sebelumnya salam kenal. Sosok di balik username nabilagit ini biasa dipanggil Nagit dan tadinya, blog utamanya bukan di sini, melainkan di sini. Karena satu dan lain hal yang bisa jadi melibatkan koneksi internet atau laptop bututnya (untung sayang), ia memutuskan untuk membuka blog lain yang relatif lebih ~ringan~ jika diakses dari gadget-nya. Lalu lahirlah blog ini, yang semata-mata berperan sebagai pencatat ide-ide selintasnya.

Selamat mengarungi semesta imaji saya. (punten, ndak selamanya saya nulis dengan bahasa literer)