Apa yang malaikat lakukan saat mereka sedih?

Aku tahu, Ibu tidak suka aku menanyakan sesuatu yang aneh. Aneh pun sebenarnya hanya kualitas yang subjektif; parameter aneh buatku adalah ketika kening Ibu sudah berkedut-kedut. Mungkin bertanya-tanya, waktu hamil dia dulu saya ngidam apa, ya?

Namun, kali ini tanda tanya di benakku tak dapat dibendung lagi. Aku hanya ingin tahu, Ibu, apa yang malaikat lakukan saat mereka sedih?

Aku melihat kening ibu kembali berkedut-kedut. Namun, kali ini ia tidak langsung memalingkan wajahnya. “Nanti, kalau Ibu sudah tahu jawabannya akan Ibu beri tahu, ya,” ujarnya singkat. Aku melonjak kegirangan. Akhirnya, akhirnya; pertanyaan aneh pertamaku akan terjawab!

***

            Waktu itu, dua jarum jam tumpang-tindih di angka sebelas. Langit sudah berkalung bintang.

“Ibu!” seruku cepat. Aku segera meraih kakinya, karena aku memang hanya setinggi itu. “Ibu, kenapa pulang malam sekali?” Malam itu, aku melihat sesuatu pada wajah iIbu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Lelah; sama lelahnya ketika ia usai menyapu lantai seluruh penjuru rumah. Senang; kata Ayah, sama seperti wajahku saat Kakek memberiku tambahan koleksi Lego. Namun, ada satu lagi yang tidak aku kenali. Seluruh wajahnya merona merah dan matanya berair.

“Fionna!” Tiba-tiba, Ayah langsung menghambur keluar, bahkan tak sempat memakai sandalnya. Saat melihat ayahku menyodorkan kedua tangannya, tangis ibuku pecah seketika. Ia terisak-isak di pelukan Ayah. Aku semakin bertanya-tanya, tanganku masih mencengkram kaki Ibu.

“Kevin,” ujarnya sambil menarik napas cepat-cepat.

“Kamu nggak apa-apa, kan?” ujar ayahku khawatir, ia memindai Ibu dari ujung rambut sampai kaki, matanya nyalang membelalak seperti diteror sesuatu.

“Tadi ada malaikat. Aku selamat, semua karena dia.” Malaikat?

“Ibu, malaikat itu apa?” desakku sambil menepuk-nepuk kakinya. Aku tak pernah ingat satu pun waktu ketika Ayah dan Ibu tidak menjawab pertanyaanku. Bahkan, ketika apa yang kutanyakan dalam bahasa yang mungkin tak mereka pahami. Atau ketika aku bertanya sesuatu yang sudah pernah mereka jawab untukku.

Kali itu, mereka diam; tenggelam dalam tatapan satu sama lain.

***

            Setelah malam itu, Ibu tidak keluar dari rumah lagi berhari-hari setelahnya. Ia lebih sering berkutat di ruang baca dan di depan televisi. Sering juga kutemui ia berada di balik telepon, membicarakan topik yang tidak kumengerti dengan banyak orang. Sebaliknya, Ayah jadi lebih sering keluar dari rumah. Kadang, ia membawakan makanan cepat saji untuk makan malam. Lalu, aku akan melirik Ibu, yang biasanya tidak pernah mengizinkan aku makan ayam tepung atau burger. Ia ikut makan bersama kami di meja makan.

Malam itu, kami bertiga lengkap, duduk mengitari meja makan. Ini adalah hari ketiga kami makan burger untuk makan malam. Selama itu pula aku terus menahan diri untuk tidak bertanya-tanya soal malaikat lagi kepada Ibu. Sudah kujelajahi seluruh koleksi bukuku, mereka menjelaskan malaikat sebagai gadis-gadis berkulit sewarna pualam dan bergaun putih yang membawa lingkaran emas di atas kepalanya. Memang, ada ya, yang seperti itu di kotaku?

Sementara tangan kananku memegang burger, tangan kiriku berada di bawah meja, meraba ilustrasi malaikat yang ada di buku cerita favoritku. Mungkin, mereka benar-benar nyata?

“Bu, malaikat itu apa?” Aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Rasanya seperti aku baru saja melempar sekeping koin ke dalam sumur.

Untuk pertama kalinya, Ibu menoleh ke arahku. Lalu tersenyum. Saat Ayah mengulurkan tangan untuk menggamit jemarinya, ia terkikik geli. “Sayang, malaikat di sini bukan seperti apa yang ada di buku-bukumu. Ini seperti… kiasan?” ujarnya sambil menoleh kepada Ayah.

“Y-ya, ya, ibumu lah, yang pandai menulis. Ayah kan, bisanya main musik. Tapi, kami selalu menggunakan istilah “malaikat” untuk menggambarkan seseorang yang sangat baik. Seseorang yang selalu menolong orang lain, menghibur orang lain, selalu ingin menjaga kedamaian—“

“Jadi, Ibu baru ditolong seseorang?” potongku cepat. Ayah mengangguk sebelum ibu dapat merespon apapun. “Ibumu baru pulang dari kantor, lalu… seseorang mengajaknya pulang dengan motor. Karena… di depan kantor sedang… banyak orang berkumpul.” Ibuku mendelik cepat dan wajahnya tidak bahagia lagi. Kedua mata sipitnya dikatupkan sebelum ia menghela napas panjang.

“Jadi… malaikat selalu menolong orang?” tanyaku lagi.

“Ya, bisa dibilang begitu.”

“Dia selalu membuat orang sedih menjadi senang?”

“Iya, sayang. Sekarang habiskan burgermu.”

***

            Rasanya, sudah lewat beberapa hari setelah malam itu. Hari ini, pertama kalinya aku melihat Ibu membawa tas cokelatnya lagi. Di tangan kanannya ada plastik berisi kertas-kertas, seperti biasa. Aku sedang meletakkan sebuah balok kecil untuk menyempurnakan menaraku saat ia keluar dari kamar. Ia duduk di lantai sambil memakai sepatunya di sebelahku. “Sayang, besok kamu sudah masuk sekolah lagi, ya. Hari ini, puas-puasin dulu mainnya!” Aku tertawa geli mendengarnya.

“Hari ini, Ibu pulang lebih awal,” sahutnya saat sudah berdiri di mulut pintu.

Lalu, ia menoleh ke belakang. “Apa, ya… tadi Ibu mau bilang sesuatu.”

Aku membelalak penuh semangat. Saat ayah dan ibuku ingin bilang sesuatu, biasanya mereka punya kabar baik.

“Oh, ya… tentang malaikat yang sedih.” Ia menarik napas sejenak. Mungkin, sedang mencari kata. “Kamu tahu, Nak, tidak semua makhluk dapat menjadi malaikat. Eh, bukan, malaikat sendiri adalah makhluk.”

“Lalu… malaikat punya sayap, iya, kan?” Aku mengangguk dalam-dalam.

“Itu karena mereka sangat baik. Mereka dihadiahi sayap oleh Tuhan karena mereka sangat baik. Mereka membuat semuanya bahagia. Namun, itu bukan berarti mereka tak pernah sedih.

Saat malaikat sedih, mereka akan… memeluk diri mereka sendiri dengan sayapnya.” Ibu lalu memeluk dirinya sendiri erat-erat  dengan kedua tangannya. “Lalu, mereka jadi bahagia.”

“Wah, romantis sekali, ya.” Ayah tiba-tiba muncul dari balik pintu, menyeringai. “Tapi, sudah jam segini, nih. Nanti kau telat ke kantor. Nak, pagi ini Ayah mau antar Ibu dulu, ya. Tidak lama, kok.”

Mereka berebut mencium pipiku sebelum menjauh dari ambang pintu.

“Ibu!” seruku cepat. “Kalau aku jadi anak baik, apa aku akan dapat sayap juga?”

Ibuku tersenyum kecil. “Mungkin saja, Nak.”

 

Jakarta, 1998

 

A/N: ini sebenernya buat tugas suatu matkul, terus temanya tentang perdamaian HAHA (kata temen gue “kalo dicocok-cocokin nyambung kok”) tapi yaudalah gue end up liking it jadi biarlah begini saja:(

Anyways, salah satu kebiasaan gue adalah bikin pair yang biasanya sih bakal gue pake berulang-ulang di cerita lain. Karakter Kevin Wiranata dan Fionna Wei ini pertama gue bikin pas kelas 10 (buat tugas juga) dan sampai saat ini mereka udah muncul di sekitar empat sampai lima cerita. Dua hal yang pasti adalah nama mereka dan Kevin yang seorang musical prodigy.

Beatrice

When I was in high school, I had a friend who liked to sit in the back of the class. She was the kind of friend who looked alone but was not alone.

And Beatrice was her name.

.

I didn’t know whether there were people who actually tried talking to her, but I know this roaming issue about her. Beatrice liked writing.

It went off the like-ry line, she practically was drowned. She lingered in between the words and phrases;

she enclosed herself with rhymes;

she confined herself in lines of overflowing flowery dictions. She did it all of her own free will—and no one knew exactly why.

.

I was sitting during a lecture when someone tugged my shirt from behind. I looked back; my friend handed me a crumpled piece of torn notebook paper. “From Beatrice,” he whispered.

Hearing the name Beatrice made me shrugged uneasily, yet curiously. The wrinkled paper that was now in my hand just peaked the curiosity. Really, Beatrice?

Finally made her way out of solitude?

“Thanks,” I whispered back. I was about to free the message when he tugged me again.

“It’s not you; it’s for her.” He pointed my friend who sat beside me. She was as awkward as me, receiving the message. She kept glancing to Beatrice in the back before she made her way in.

“Do not tell anyone, she said,” he added.

.

The next day, more people got crumpled notes from Beatrice. And even more on the day after. I saw them.

Beatrice started handing them over in the morning, during lectures, at recess, before P.A., at the bus stop, during the long queue at canteen; literally everywhere and every time. She handed them with nothing weighed upon her face. Her smile was a line; as if her emotion was not spilled yet—it only masked the air.

And no one told anyone about what Beatrice wrote for them. Whether it was a personal thought, or a wrath-filled message, or a love letter, I didn’t know. What I knew was ever since that day, everyone in my class started to glance more to the back of the class.

It seemed that I was the only one not getting any message from Beatrice (yet?) and it just got my curiosity sprung wilder.

I had to admit that I kinda want one.

Did Beatrice spare one left for me?

.

This afternoon, my feet took me to the seat at the back.

Beatrice’s.

The air was so still; lots of question marks were hanging above us. Curiosity deepened while fear pushed me back, but nevertheless, I found myself kept walking. And my faint steps echoing.

Beatrice lifted her head. Again, she was with that smile.

But now, she handed me a piece of paper.

Maybe, I looked like I hesitated.

“You looked like you’ve been waiting for it,” she finally spoke up. Her voice was like smoke coming out from a rural chimney—subtle and warm. I took the paper; I didn’t deny it.

For that was what I did this entire week. Waiting for it.

.

            When your thirst felt like drought,

            And a glass of water came to the rescue

 

            Just a glass

            But you decided it was enough

            And therefore, you were fulfilled

.

I turned my head to Beatrice, asking for explanations. “Is this what you send to everyone?”

She shrugged her shoulders. “Yes, but no.

I meant to say something in general, but in different ways.”

“And, that was…?”

She gulped a long pause.

A long, long one.

“I recently defined happiness by my own. It was such a time of revelation, I felt like I had solved an enormous question thrown to human being this whole time. Happiness was so inexplicable for centuries, so when I really understood it…

it was satisfying. And I want everyone to know that.”

She was sure pushing me—she wanted me to ask.

Her eyes were gleaming with spirit.

“And what does it mean to you?”

She showed me that smile again. Now, I became perfectly sure and aware.

“To me, happiness is feeling enough.

And by the term enough, you are the one to decide. ”

.

“Aren’t you gonna find one, too?”

“What, for exact?”

“Yours.”

I kept that memory to fund my search, until now.

 

A/N: terinspirasi dari all this wishy-washy about philosophy and happiness yang diprovokasi oleh rekan Sabila Bahrain, terima kasih.

I was also thinking about Lemony Snicket’s Beatrice and Bread’s Aubrey at the same time; thank you, they are beautiful.

Melewatkanmu

coffeeandtv:

Halo, aku adalah seseorang di balik username coffeeandtv ini. Namaku Adrian, dan kepentinganku di situs pencarian pasangan ini bukanlah untuk menemukan belahan jiwa. Sesungguhnya aku hanya sedang mengisi waktu di antara saat ini dengan tenggat waktu pengumpulan skripsi; karena, ya, aku serajin itu. Menyelesaikan skripsiku sebelum batas pengumpulan bergema.

Aku kembali memainkan handphone-ku seraya sesekali melirik ke arah limunku yang mulai menggelegak dipenuhi lelehan es dan ke arah sebuah buket bunga yang kuharap tidak segera layu. Hari ini, aku akan segera bertemu dengan sosok yang kukenal lewat situs tersebut!

Situs pencarian pasangan memang sebuah hal yang aneh—benar apa kata temanku—karena kenyataannya, tak semua orang di situ sedang mencari pasangan. Sejauh ini, aku telah menemukan seseorang yang memasang batu bata sebagai display picture-nya (mungkin dengan harapan mencari seseorang yang tidak melihat fisik), ada pula yang terlalu desperate untuk menemukan seseorang yang dapat digandengnya saat wisuda.

Dan ada pula gadis ini; gadis dengan username virtualinsanity. Seseorang yang tak kuduga akan kutemukan di antara jutaan orang lainnya, di situs ini. Gadis itu bahkan tak memasang wajahnya sendiri sebagai display picture, namun aku yakin dia adalah orang yang selama ini kucari.

Kami dipertemukan oleh jaringan tersebut atas dasar minat yang sama, yaitu lagu. Aku meliriknya karena username yang dipakainya—Virtual Insanity adalah salah satu hits terpopuler dari band Jamiroquai, dan lagu itu telah menjadi favoritku selama bertahun-tahun lamanya. Dengan malu-malu gadis itu juga mengakui bahwa ia menilaiku dari username-ku; coffeandtv.

“Itu lagunya Blur, kan? Gue suka banget Blur, hehehe.”

Intensitas waktuku berlayar di situs tersebut pun meninggi. Setiap hari, rasanya ada setidaknya satu hal baru yang kuketahui tentangnya. Ia lebih suka roti bakar dengan selai kacang daripada selai stroberi, ia punya takaran sirup vanila rahasia saat berada di Starbucks, ia memelihara tiga ekor kucing persia, dan ia seorang aktivis LGBT.

You know, coffeeandtv. Terlepas dari apapun keyakinan gue, gue percaya kalau seseorang bebas untuk memilih kepada siapapun ia akan menjatuhkan hatinya,” ketiknya.

Sementara aku? Aku… bisa dibilang, aku homophobic.

“Tapi… tapi gimana ya, nggak enak aja gue ngeliatnya. Itu kan menyalahi kodrat Tuhan. Bukankah wanita dan lelaki diciptakan berpasang-pasangan?”

“Tapi kenapa Tuhan menciptakan kaum gay dan lesbian?”

“Tuhan nggak menciptakan mereka, mereka ada karena pengaruh lingkungan sosial.”

“Lalu lantaskah kalau mereka ada, mereka tidak punya kesempatan untuk menikah? Melanggar hak asasi, dong.”

Dan pada akhirnya, aku harus memutar otak lagi untuk membalas semua argumennya. “Ya, ya. Gue kalah (lagi).” Ia lalu mengirimkan sticker karakter yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Say, coffeeandftv. What’s your objective in making this account here?” tanyanya, seraya mengalihkan perhatian.

Tujuanku apa?

Tujuanku adalah untuk mengisi waktu luangku—mungkin dengan menggoda gadis-gadis atau mengobrol panjang lebar. Atau menemukan orang-orang aneh di sini. Tapi itu semua adalah tujuanku… sebelum aku memutuskan untuk menyapamu, virtualinsanity.

Dengan susah payah, aku menelan ludah lalu mulai mengetik. “Like… looking for a girlfriend? Belum kepikiran buat serius, tho. And you?”

“Wah, sayang sekali. Gue cuma niat cari temen ngobrol di sini sebenernya, hehe.”

Rasanya setangkai harapan yang membuncah di hatiku telah remuk dan patah. Seperti peluangku untuk lebih dekat dengannya satu langkah terenggut tanpa sadar. Akhirnya aku membalas, “Hahaha! Geer amat lo, emangnya tipe gue orang kayak lo?”

Apa kau benar-benar menyukainya, Adrian?

.

Sudah mendekati dua bulan kami saling kenal. Dan semakin hari, virtualinsanity semakin menyenangkan saja. Terlalu menyenangkan hingga aku lupa bahwa objektifnya di sini hanya untuk mencari teman bertukar kata.

Kalau kukenang lagi keadaanku bertahun-tahun silam, aku belum pernah merasakan sesuatu yang seaneh ini. Jatuh hati pada seseorang, bahkan sebelum bertemu pandang dengannya? Pasti ada sesuatu yang berbeda darinya. Praduga yang asal-asalan itu semakin menguatkan tekadku; aku akan menyatakan perasaanku padanya!

Malam itu, usai kami bertukar link jokes-jokes receh di 9GAG, aku langsung mengeluarkan pernyataan.

“Heh, gue punya sebuah pernyataan. Tapi nggak seperti pernyataan gue yang biasa-biasanya, yang sebatas omongan di mulut dan banyaknya ngelawak.”

“Wah, apa itu?”

“Pernyataan ini dari hati gue yang terdalam. Jangan marah, ya tapi,” ketikku ragu-ragu, “I like you, and I never feel this way before. Shall we go out?”

Sesuatu yang sudah kuduga, virtualinsanity seolah menghilang selama satu jam setelah aku mengetik opsi “kirim”. Dan selama itu juga, pikiran-pikiran aneh melintasi benakku. Mungkin dia sudah punya pacar, mungkin dia harus minta izin pada ibunya dulu jika ingin pacaran, atau mungkin dia sedang berusaha memilih di antara aku atau seseorang lainnya?!

“Hai, coffeeandtv,” ujarnya tiba-tiba. “Maaf sekali gue harus bilang ini, tapi sebenernya… I’m currently in a relationship. Makanya waktu itu gue bilang ke elo, objektif gue cuma buat cari temen ngobrol. I’m so sorry, I can’t return back your feelings.”

Ha, ha.

Iya, aku tahu kok. Mendadak aku ingin log out saja, aku merasa dua kali lebih bodoh.  Sudah sadar akan tujuannya di sini, kenapa aku berani sekali menyatakannya? Adrian, memang dari awal kau sudah salah langkah.

“Hahaha, nggak papa, kok. Tapi bisa nggak kita ketemu? Gue cuma pengen ngeliat lo secara nyata.”

Kali ini virtualinsanity heing lebih lama lagi.

“Lo harusnya ngelupain gue.”

“Tapi gue pengen banget ketemu sama lo, gimana dong?”

“ Gue nggak mau. Gue takut lo marah, lo kecewa. Gue kan, udah punya pacar.”

“Enggak bakal. Gue udah tahu tujuan lo di sini buat cari temen soalnya.” Lalu ia hening kembali, jauh lebih lama.

“Bener, ya?”

“Iya.” Aku berusaha menjawab sejantan mungkin sebelum akhirnya menjatuhkan diri ke kasur, berguling-guling tak karuan. Sekarang, semuanya bias.

.

Risih memandangi gelas limunku yang mulai berair, akhirnya aku menyesap isinya sedikit. Bersamaan dengan itu, bel angin di pintu kafe berdenting lembut. Ada yang masuk!

Aku segera merapikan kerah bajuku, lalu menyembunyikan buket mawar itu di belakangku. Mungkin ini bukanlah pertemuanku untuk mendapatkan hatinya, namun aku yakin pertemuan ini diperlukan untuk memberikan kesan terakhir yang baik (aku bersumpah akan segera menghapus akunku setelah ini).

Orang yang tadi masuk bersama denting bel angin mendekatiku. “Lo coffeeandtv, kan?”

Saat itu aku sadar bahwa virtualinsanity benar, seharusnya detik itu juga aku menghapus akunku. Menghapus memori dalam otakku bahwa aku tidak punya kenalan bernama virtualinsanity sebelumnya. Bahwa virtualinsanity bukan gadis yang selama ini kucari.

.

Sudah lewat dua hari dari pertemuanku dengan virtualinsanity.

Seharusnya aku telah melewatkannya saat itu, seharusnya aku bahkan tak perlu mengingat username-nya lagi atau bahkan mengajaknya bertemu di kafe. Saat aku melihat senyumnya, aku merasakan sesuatu yang lebih aneh lagi dibandingkan cinta, sesuatu yang bagiku tak dapat dijelaskan lebih jauh lagi. Memilih untuk jatuh lebih dalam kepadanya sama dengan menyalahi semua pernyataan yang telah kubuat dan kujatuhkan atas diriku sendiri.

Sepertinya, aku benar-benar jatuh cinta.

Malam itu aku menangis keras-keras. Sepertinya, aku bukan Adrian yang sebelumnya kukenal.

 

 

virtualinsanity:

Namaku Damar.

.

A/N: Cerpen awal 2016. Cliche twists are nice, most of the time.

hari depan Indonesia

Sebenarnya ini adalah satu hal yang nggak begitu penting dari seluruh rangkaian OKK UI 2016, but it just catches my attention more than ever dan GAADA YANG BISA NGE-RELATE:( jadi I’m just gonna write this here.

Kalian pasti tahu Taufik Ismail–atau seenggaknya pernah denger, deh. Iya, budayawan itu. Hari itu, dia dateng ke UI dan membacakan sebuah puisi.

Lalu, dia sepik-sepik gitu tentang berada di UI. (courtesy of pendengaran gue yang setengah ga fokus) “Saya merasa sangat senang berada di sini, di universitas terbaik di Indonesia, karena saya dapat berada di tengah-tengah kalian hari ini. Dan apa yang saya lihat sekarang di depan saya ini adalah…

hari depan Indonesia.”

HE WAS FRIKKIN GIVING REFERENCE TO HIS OWN POEM AND OH MY GOD

I CAN’T EVEN rasanya gue pengen teriak-teriak sambil lompat “OMG PAK I GET YOUR REFERENCE”

Mr. Taufik, u r ma homie ❤❤❤

.

P.S. Still waiting that time ketika gue bisa make my own reference atas karya gue sendiri (dan ada yang ngerti!! 😂).

what i miss about you

I miss

the crumbled sound of  used oily plastic you keep in your pocket

the clinking sound of spoon and fork you forcefully stab to your fried chicken

the subtle smell smeared all over your jacket

the shared sound of bass thumping from the leftie earphone in my right ear

because they simply say

that you are

here.

crooked bus

Tersiar kabar tentang bus astral itu.

Buas, menggagahi hampir setiap obrolan di kelas.

“Katanya, cuma orang-orang terpilih yang bisa naik bus miring.” Semua anak sibuk mengerumuni A, yang konon mendapat bocoran dari berbagai forum mistis. Mereka kini menghamba pada cetusan informasi yang bahkan belum terbukti kebenarannya.

“Terpilih tuh gimana?” desak B tak sabar.

“Kalau dari yang pernah gue baca, bus miring itu diperuntukkan buat orang-orang yang bermasalah.” Pasangan-pasangan mata itu membulat, lalu saling berpandangan. “Masalah seperti apa?”

A hanya menaikkan bahunya. “Entah.

Mereka bilang, lo harus sangat bermasalah buat bisa melihat bus miring. Dan kalau lo bisa melihat, lo bisa naik.”

Sekali lagi, mata-mata itu melebar. Mungkin mereka sama sekali tidak berpikiran untuk menaikinya, namun setidaknya cakrawala mereka terbentang semakin jauh dengan ilmu mistis ini. Karena—ya, sebenarnya, mereka yang amat membutuhkan akses menuju bus miring bahkan tidak perlu bertanya.

.

“Gue yakin.” Dia berbisik amat pelan dari ujung sambungan, seolah kami sedang bermain kuda bisik. Aku mulai merasa jengah. Orang waras macam apa yang yakin untuk dibawa pergi selama-lamanya kecuali dia memang ingin mengakhiri hidup? Aku dapat mendengar suara-suara geliat tak nyaman dari balik telepon. Sepertinya, ia tak punya jalan lain.

“Jadi, apa yang akan lo lakukan malam ini? Menunggu bus miring di halte?” Aku berusaha tertawa kecil untuk mencairkan suasana.

“Nggak,” Dia berhenti sejenak, “bus miring tidak ditunggu. Ia akan datang sendiri kepada orang-orang yang terpilih.” Aku menelan ludah.

Rasanya ingin sekali aku mencegahnya. Mungkin dengan berlari ke rumahnya lalu mengunci seluruh pintu dan menyegel jendelanya, agar ia tak dapat melihat kedatangan bus miring.

“Tapi, lo tau—lo bisa memilih buat naik atau tidak, kan?” Dengan hati-hati, aku berusaha memilih kata-kata. Mungkin sesaat lagi ia akan kembali mengulang alasan yang sama. Bahwa masalah kejiwaan adalah hal yang serius dan tidak dimengerti kebanyakan orang.

Kadang, aku merasa lebih suka melihatnya menggoreskan mata silet ke permukaan kulitnya dibanding terus-terusan berinisiatif bahwa bus miring akan memilihnya. Hal itu terasa lebih logis, meski keduanya bukan jalan keluar yang tepat.

Dia menarik napas panjang. “Jay, kita sudah bicarakan ini. Gue akan naik.

Bus miring akan berkeliaran sekitar pukul sembilan malam, pada tanggal-tanggal genap di minggu terakhir setiap bulan. Malam ini gue mau berbenah.” Lalu terdengar suara gemerisik bahan parasut sebagai latar. Dan klontang termos dengan permukaan meja.

Sial! Aku berusaha memutar otak.

“Kenapa lo masih beres-beres kalau lo tahu naik bus miring sama dengan mengakhiri hidup?”

Aku dapat mendengar dia membanting tasnya ke kasur. “Gue nggak tahu, Jay.

Ya, mungkin bus itu akan membawa gue ke liang kubur. Tapi, mungkin juga ia akan membawa gue ke tempat yang lebih baik. Di sana gue bakal lupa semua masalah gue dan lo nggak harus mencegah gue berbuat suicidal lagi.”

“Lo tahu rute bus itu?” desakku lagi.

Are you going to follow me? Because you can’t.

“Lewat mana busnya?” ujarku lagi, berusaha terdengar seindimidatif mungkin.

Dia berdecak sebal sebelum kembali buka suara. “Highway to nowhere. Dia akan lewat situ, tapi tidak ada yang tahu tujuan pastinya.”

“…Highway to nowhere?” ulangku, seperti berbicara pada diriku sendiri.

“Itu jalan tol,” jawabnya cepat. Dan ketus.

Namun, ia terdengar seperti masih ingin memberi penjelasan.

“Ya,” ujarku lamban, sambil mulai mengetik beberapa kata kunci di situs pencarian, “itu memang terdengar seperti jalan tol.”

“Jalan tol biasa, tapi tanpa penerangan dan papan penunjuk rute. Satu-satunya pencahayaan adalah lampu kendaraan yang kita tumpangi. Katanya, saat lo melalui jalan itu, lo akan merasa sudah tahu mau ke mana.

Di sana tenang sekali. Mungkin, itu satu-satunya saat di mana lo menikmati terkungkung begitu saja dalam gelap dan kesendirian.”

Masih sambil menyimak, aku melirik layar laptop yang menampilkan beberapa hasil pencarian untuk kata kunci ‘highway to nowhere’. Memang tidak ada gambar yang menjelaskan tempat itu secara nyata, namun ada beberapa ilustrasi yang dibuat berdasarkan kesaksian.

Apa mungkin ada orang yang bisa selamat setelah melalui highway to nowhere?

“Jay?”

“Ya?” jawabku buru-buru.

“Ini sudah mau jam sembilan.” Ia berbisik lamat-lamat. “Dan mungkin, akan jadi percakapan kita buat yang terakhir kalinya.

Gue mencoba mencari saat yang tepat buat ngomong ini tapi ya… rasanya nggak akan pernah ada.

Gue selalu suka lo, Sanjaya.”

Aku tersenyum kecil. “Gue tau.”

I hate you.” Dia menutupnya dengan gelak tawanya yang renyah. “Meskipun lo nggak pernah ngerti masalah gue, tapi lo pendengar yang baik.

Sampai jumpa Jay, di lain kesempatan.” Sambungan telepon ditutup.

Detik itu juga, aku blingsatan melihat ke sekeliling ruangan. Masih ada sepuluh menit lagi sebelum jam sembilan. Aku langsung meraih jaket parka yang tergantung di balik pintu, lalu memadatkan dompet dan powerbank ke dalam sakunya.

Persetan kalau aku tidak cukup bermasalah untuk melihatnya.

Aku punya masalah;

sahabatku berkeras untuk pergi dengan bus itu sementara nada suaranya berkata,

“Selamatkan aku.”

.

A/N: Probably is one of my favorite works! Will be edited soon after I start my study (reading psychology handbooks and Dr. Frost is not enough, tho).

short remark: The Curious Case of Benjamin Button

A/N: this contains spoilers. But personally, I don’t think the spoilers will ruin the fun in watching the movie, tho.

Waktu gue SD, gue dengan gatau dirinya hanya memanfaatkan sebagian besar waktu dengan TV kabel buat nonton Animax atau National Geographic. Sekarang TV kabel sudah tidak ada lagi di rumah gue.

Dan gue literally hampir nggak nonton TV di rumah lagi sejak saat itu.

Oleh karena itu, gue sangat menghargai TV kabel. Salah satu bentuk penghargaannya adalah nonton sampai larut di hotel/penginapan yang ada TV kabelnya. Sumpah, gue baru tau kayaknya semua program di AXN gaada yang ngebosenin 😦

Seperti biasa, kemarin gue sedang menghargai TV kabel di hotel. Jam menunjukkan sekitar pukul 10 malam pas gue lagi dengan seriusnya nonton Need For Speed (don’t judge me, guys. It was SUPER intense). And it was probably like 1 a.m. when it finished?

Akhirnya Need For Speed selesai. Eh, paan lagi neh selanjutnya?

It was frikkin The Curious Case of Benjamin Button (2008).

And I can’t forget the whole film until now.

.

Born under unusual circumstances, Benjamin Button (Brad Pitt) springs into being as an elderly man in a New Orleans nursing home and ages in reverse. Twelve years after his birth, he meets Daisy, a child who flickers in and out of his life as she grows up to be a dancer (Cate Blanchett). Though he has all sorts of unusual adventures over the course of his life, it is his relationship with Daisy, and the hope that they will come together at the right time, that drives Benjamin forward.

Iya, seperti kata sinopsisnya, Benjamin Button terlahir dengan kelainan yang membuat dia mengalami reverse-aging.  Dia punya pertumbuhan mental yang normal, tapi pertumbuhan fisiknya terbalik. Contohnya, ketika dia punya jiwa anak usia 10 tahun, tubuhnya mirip kakek-kakek.

Gue kira Benjamin bakal selamanya tua gitu kan (sebelum gue mengambil kesimpulan kalo dia mengalami reverse-aging), tapi gue syok pas di tengah cerita he turns into a hot damn Brad Pitt.

Oh, seumur hidup gue gapernah ngerti di mana sisi hot-nya Brad Pitt sampai hari itu.

Pas Benjamin ketemu cinta pertamanya, Daisy, gue mikir, ‘This will be a good story of unconditional love that empowers people!’ Ya soalnya, you know–the little Daisy and “grandpa” Benjamin.

But as the story revolves… it reveals that it’s not only telling love story. It tells everything

It unveils the concept of life and death beautifully. Tentang penerimaan terhadap takdir, yang tidak berarti menyerah pada keadaan–melainkan pengharapan agar kita selalu diberi kekuatan dan keberanian untuk mengulang lagi hingga mencapai apa yang sesungguhnya kita tuju.

Oh, dan pas Benjamin dan Daisy mencapai umur fisik yang sama, the story turned into a super steamy and adorable romance involving Brad Pitt and Cate Blanchett 💔

Film ini diadaptasi dari cerpen berjudul sama karya F. Scott Fitzgerald, tapi apparently Eric Roth, penulis naskah filmnya, hanya mengambil judul dan kelainan Benjamin Button untuk film.

Gue baca sedikit excerpt cerpennya, dan gue rasa, kalau lo harus nonton film yang bener-bener diadaptasi sepenuhnya dari cerpen, lo bakal mikir kalo Benjamin Button is a huge bastard (go read it by yourself, lol). Filmnya bakal jadi sangat witty, tapi ya, pendekatan dramanya kurang.

Sementara, Eric Roth berhasil membuat kisah Benjamin Button yang film-able. Dia sukses memasukkan penghayatan terhadap kehidupan (juga menampilkan sosok Benjamin yang sangat suami-able) dan nggak hanya sekadar ngomongin keanehan dunia sains yang terjadi pada Benjamin. Eric Roth is a goddamn genius.

Hal lain yang gue suka dari film ini adalah bentuk narasinya yang berupa pembacaan isi jurnal, dan ya, seperti semua jurnal, nggak ada yang bener-bener menggambarkan seluruh keutuhan kisah hidup. Jatuhnya ceritanya jadi “terpotong-potong”–sedikit mirip sama 500 Days of Summer, mungkin–tapi ini salah satu faktor yang bikin gue nggak bosen nontonnya.

Filmnya juga aesthetically pleasant menurut gue, sedikit mengingatkan gue sama sinematografinya The Grand Budapest Hotel (meskipun belum bisa nyaingin ini HAHA). Sinematografinya memang dirancang buat bikin penonton ada di roller coaster of emotion, tone warnanya berubah-ubah sesuai latar emosi (dan itu berhasil memengaruhi gue, setidaknya).

Kalau dipikir secara logis, harusnya kelainan Benjamin Button ini bakal bikin orang-orang takut (atau bingung) juga menarik perhatian kalangan medis. Tapi hal-hal ini sama sekali nggak ditunjukkan dalam film (yang membuatnya sedikit nggak masuk akal).

Namun, buat gue salah satu indikator film ini berhasil menghipnotis lo adalah ketika lo nggak mikirin hal-hal illogical saat nonton.

I swear I was on the verge of sobbing helplessly when the film ended (but I couldn’t, for it was like 3 a.m.). And my favorite quote?

Our lives are defined by opportunities, even the ones we miss.

Bonus quote favorite lain pasca ketragisan akhir kelas 12 gue:

You can be as mad as a mad dog at the way things went, you can curse the fates, but when it comes to the end, you have to let go.

Dan iya, pada akhirnya mungkin ini adalah cerita tentang unconditional love story (and damnit it was such a tear-jerker). Tapi gue yakin kalau Eric Roth sendiri nggak ingin lo kelar nonton ini cuma ngerti cinta-cintaannya aja. This film has a world in it.

[5/5]

P.SSekarang gue ngerti kenapa gue nggak dianugerahi TV kabel di rumah…