permisi, saya mau menari dengan kamu

Iseng-isengnya Gita & Handaru ep. 1
(interpretasi dari lagu berjudul sama oleh Hidego Handaru)

Nona, bagaimana kalau satu dansa selepas kelas sore nanti?
Sebab saya lihat wajahmu tak terusik
meski bergerak kaki tanpa henti
Tak perlu gaun dan sepatu rapi
Cukup telanjang kaki
Dan sebuah tempo di sanubari

Nona, katamu tak perlu ada musik berdendang?
Ujarmu, Tuhan bertutur lagu lewat binar bulan
dan remah bintang
Maka, kalau malam sudah menjelang
Siapa lagi yang bisa larang
kita berjalan seiring di jalan lapang
Berhenti di bawah lampu taman
lalu saling merengkuh pinggang

Nona, kalau malam sudah usai
Apa semua jejak,
gerak,
dan pijak
akan jadi masai?
Atau kenangannya terburai?
Tukasmu, masih ada hari esok,
lusa,
dan seribu tahun lagi
Maka, sekali lagi saya bilang permisi
Bersamamu, saya ingin menari

 

 

2 a.m. talk

“Halo?”

“Tumben lu bangun jam segini. Apa emang nggak tidur? Atau mimpi buruk?” cerocosnya.

“Nggak sih… kebangun aja,” ujarku sambil memijat kepalaku sendiri. Beberapa kali malam mengetuk benak yang kutinggalkan saat lelap dan beberapa kali pula aku jadi terjaga. Tapi, ini adalah kali pertama aku tanpa pikir panjang memutuskan untuk menghubunginya dini hari.

“Oh, gitu.”

“Ngapain lu bangun jam segini?”

“It’s indomi o’clock,” tukasnya santai. Jika lebih serius mendengarnya, memang ada sayup-sayup denting garpu pada panci dan bunyi air yang menggelegak berbuih-buih.

“Jam 2 pagi Mbak, bukan jam indomi.”

“Jam 2 pagi di waktu gue sedang membuat indomi. Alias jam indomi. Fair enough.”

“Buset, perasaan baru dua hari yang lalu makan indomi.”

“Ya… nggak papa!” sambungnya dengan suara tawa. Ia terdengar malas mencari pembenaran lagi, namun di saat yang sama mengakui bahwa makan mi instan terlalu sering memang tidak baik.

“Kalau ngekost jadinya every time is indomi o’clock, ya.”

“Nggak, lah. Lu kira gue maniak indomi.”

You sure sound like you are.”

“Hu-uh, terserah, deh.” Aku dapat mendengarnya mematikan kompor, lalu menuangkan isi panci ke atas mangkuk–atau piring. “Bentar, ye.”

Sesuai katanya, aku menunggu. Mendengar ia berjalan, meletakkan mangkuk–atau piring–di atas meja, lalu menarik kursi. Sejurus kemudian, terdengar suara lain, sepertinya suara suapan mi ke dalam mulutnya.

“Enak, ya?” godaku.

“Banget. Eh, sori yak, nggak bisa bagi-bagi. Daripada lo dengerin gue makan doang, mending lo cerita apa, kek. Gue dengerin deh, sampe mi gue habis. Sampe gue ngantuk juga kalau perlu.”

“Berarti cerita gue bikin bosen, ya? Bisa sampai ngantuk,” selorohku sambil memutar otak, mencari sesuatu yang dapat kuceritakan.

“Nggak, suara lo meninabobokan soalnya. Hahaha.”

“Yee. Dasar. Ngomong-ngomong, gue nggak punya cerita. Lo mau denger gue main harmonika aja, nggak?”

“Dengan senang hati.”

Aku meraih harmonika yang kusimpan di laci mejaku. Sebenarnya, sama sekali tak terpikir olehku untuk bermain harmonika, namun tiba-tiba ada serentetan nada yang mengusikku. Sambil mengepit instrumen itu di mulutku, aku meletakkan ponselku di depan mulutku lalu mulai bermain.

“Gimana?”

“Kayak jingle susu murni yang  suka lewat di jalanan, hahaha!” tawanya.

“Kurang ajar,” tukasku masam.

“Nggak sih, sebenernya nggak kayak jingle itu. Gue cuma bingung aja harus mendeskripsikannya gimana. Soalnya… aneh, ya, aneh. Aneh kayak rombongan sirkus keliling di dongeng-dongeng, jam tua yang berdentang tiga belas kali tapi hanya di waktu tertentu, halaman-halaman tersembunyi di deep web… ya… aneh, The.”

“Oh ya?” aku tertawa kecil mendengarnya. Ia selalu punya cukup banyak metafora untuk menggambarkan situasi apa pun; cukup banyak untuk selalu membuatku tercengang akan seberapa liar isi kepalanya.

“Ya…” Ia tertawa mengekor, sepertinya tak yakin harus tertawa karena apa namun ingin tertawa saja mendengar tawaku. “Dari mana tuh memang, inspirasinya?”

“Dari beberapa saat setelah pembicaraan kita berlangsung.”

“Ooo. Berarti, kita aneh, ya.”

“Itu pertanyaan atau pernyataan?”

“Pernyataan,” tawanya.

“Ya… mungkin itu ada benarnya. Tapi gue lebih suka bilang kalau kita hampir selalu terjebak dalam situasi-situasi aneh. Buktinya, keseluruhan isi pembicaraan kita sekarang aja aneh.”

“Tapi lo menikmatinya, kan?” godanya. “…seperti gue menikmati menjadi aneh bersama lo,” imbuhnya lagi.

“Tentu, lah. Siapa bilang gue nggak suka?”

“Memang ya, Tuhan bekerja dengan cara yang aneh. Dia menjadikan keanehan sebagai hal yang melekatkan kita.

Yang mana… aneh juga, tapi surprisingly, I don’t mind. Oh, look, the abundance of ‘aneh’ here.”

“Ya. Gue menikmati setiap situasi aneh bersama lo, Stara.” Aku senang menyebutkan nama depannya dan selalu mencari momen yang pas untuk mengatakannya.

Ia tertawa terbahak-bahak. “Me too, Artheo. Me too.”

Panggilan masih tersambung, namun kami diam selama beberapa saat. Setiap kali hendak berbicara, yang mampu keluar hanya dengusan yang berujung tawa.

Akhirnya, ia buka suara lagi, “Theo, lu bisa main harmonika pakai hidung, nggak?”

Melewatkanmu

coffeeandtv:

Halo, aku adalah seseorang di balik username coffeeandtv ini. Namaku Adrian, dan kepentinganku di situs pencarian pasangan ini bukanlah untuk menemukan belahan jiwa. Sesungguhnya aku hanya sedang mengisi waktu di antara saat ini dengan tenggat waktu pengumpulan skripsi; karena, ya, aku serajin itu. Menyelesaikan skripsiku sebelum batas pengumpulan bergema.

Aku kembali memainkan handphone-ku seraya sesekali melirik ke arah limunku yang mulai menggelegak dipenuhi lelehan es dan ke arah sebuah buket bunga yang kuharap tidak segera layu. Hari ini, aku akan segera bertemu dengan sosok yang kukenal lewat situs tersebut!

Situs pencarian pasangan memang sebuah hal yang aneh—benar apa kata temanku—karena kenyataannya, tak semua orang di situ sedang mencari pasangan. Sejauh ini, aku telah menemukan seseorang yang memasang batu bata sebagai display picture-nya (mungkin dengan harapan mencari seseorang yang tidak melihat fisik), ada pula yang terlalu desperate untuk menemukan seseorang yang dapat digandengnya saat wisuda.

Dan ada pula gadis ini; gadis dengan username virtualinsanity. Seseorang yang tak kuduga akan kutemukan di antara jutaan orang lainnya, di situs ini. Gadis itu bahkan tak memasang wajahnya sendiri sebagai display picture, namun aku yakin dia adalah orang yang selama ini kucari.

Kami dipertemukan oleh jaringan tersebut atas dasar minat yang sama, yaitu lagu. Aku meliriknya karena username yang dipakainya—Virtual Insanity adalah salah satu hits terpopuler dari band Jamiroquai, dan lagu itu telah menjadi favoritku selama bertahun-tahun lamanya. Dengan malu-malu gadis itu juga mengakui bahwa ia menilaiku dari username-ku; coffeandtv.

“Itu lagunya Blur, kan? Gue suka banget Blur, hehehe.”

Intensitas waktuku berlayar di situs tersebut pun meninggi. Setiap hari, rasanya ada setidaknya satu hal baru yang kuketahui tentangnya. Ia lebih suka roti bakar dengan selai kacang daripada selai stroberi, ia punya takaran sirup vanila rahasia saat berada di Starbucks, ia memelihara tiga ekor kucing persia, dan ia seorang aktivis LGBT.

You know, coffeeandtv. Terlepas dari apapun keyakinan gue, gue percaya kalau seseorang bebas untuk memilih kepada siapapun ia akan menjatuhkan hatinya,” ketiknya.

Sementara aku? Aku… bisa dibilang, aku homophobic.

“Tapi… tapi gimana ya, nggak enak aja gue ngeliatnya. Itu kan menyalahi kodrat Tuhan. Bukankah wanita dan lelaki diciptakan berpasang-pasangan?”

“Tapi kenapa Tuhan menciptakan kaum gay dan lesbian?”

“Tuhan nggak menciptakan mereka, mereka ada karena pengaruh lingkungan sosial.”

“Lalu lantaskah kalau mereka ada, mereka tidak punya kesempatan untuk menikah? Melanggar hak asasi, dong.”

Dan pada akhirnya, aku harus memutar otak lagi untuk membalas semua argumennya. “Ya, ya. Gue kalah (lagi).” Ia lalu mengirimkan sticker karakter yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Say, coffeeandftv. What’s your objective in making this account here?” tanyanya, seraya mengalihkan perhatian.

Tujuanku apa?

Tujuanku adalah untuk mengisi waktu luangku—mungkin dengan menggoda gadis-gadis atau mengobrol panjang lebar. Atau menemukan orang-orang aneh di sini. Tapi itu semua adalah tujuanku… sebelum aku memutuskan untuk menyapamu, virtualinsanity.

Dengan susah payah, aku menelan ludah lalu mulai mengetik. “Like… looking for a girlfriend? Belum kepikiran buat serius, tho. And you?”

“Wah, sayang sekali. Gue cuma niat cari temen ngobrol di sini sebenernya, hehe.”

Rasanya setangkai harapan yang membuncah di hatiku telah remuk dan patah. Seperti peluangku untuk lebih dekat dengannya satu langkah terenggut tanpa sadar. Akhirnya aku membalas, “Hahaha! Geer amat lo, emangnya tipe gue orang kayak lo?”

Apa kau benar-benar menyukainya, Adrian?

.

Sudah mendekati dua bulan kami saling kenal. Dan semakin hari, virtualinsanity semakin menyenangkan saja. Terlalu menyenangkan hingga aku lupa bahwa objektifnya di sini hanya untuk mencari teman bertukar kata.

Kalau kukenang lagi keadaanku bertahun-tahun silam, aku belum pernah merasakan sesuatu yang seaneh ini. Jatuh hati pada seseorang, bahkan sebelum bertemu pandang dengannya? Pasti ada sesuatu yang berbeda darinya. Praduga yang asal-asalan itu semakin menguatkan tekadku; aku akan menyatakan perasaanku padanya!

Malam itu, usai kami bertukar link jokes-jokes receh di 9GAG, aku langsung mengeluarkan pernyataan.

“Heh, gue punya sebuah pernyataan. Tapi nggak seperti pernyataan gue yang biasa-biasanya, yang sebatas omongan di mulut dan banyaknya ngelawak.”

“Wah, apa itu?”

“Pernyataan ini dari hati gue yang terdalam. Jangan marah, ya tapi,” ketikku ragu-ragu, “I like you, and I never feel this way before. Shall we go out?”

Sesuatu yang sudah kuduga, virtualinsanity seolah menghilang selama satu jam setelah aku mengetik opsi “kirim”. Dan selama itu juga, pikiran-pikiran aneh melintasi benakku. Mungkin dia sudah punya pacar, mungkin dia harus minta izin pada ibunya dulu jika ingin pacaran, atau mungkin dia sedang berusaha memilih di antara aku atau seseorang lainnya?!

“Hai, coffeeandtv,” ujarnya tiba-tiba. “Maaf sekali gue harus bilang ini, tapi sebenernya… I’m currently in a relationship. Makanya waktu itu gue bilang ke elo, objektif gue cuma buat cari temen ngobrol. I’m so sorry, I can’t return back your feelings.”

Ha, ha.

Iya, aku tahu kok. Mendadak aku ingin log out saja, aku merasa dua kali lebih bodoh.  Sudah sadar akan tujuannya di sini, kenapa aku berani sekali menyatakannya? Adrian, memang dari awal kau sudah salah langkah.

“Hahaha, nggak papa, kok. Tapi bisa nggak kita ketemu? Gue cuma pengen ngeliat lo secara nyata.”

Kali ini virtualinsanity heing lebih lama lagi.

“Lo harusnya ngelupain gue.”

“Tapi gue pengen banget ketemu sama lo, gimana dong?”

“ Gue nggak mau. Gue takut lo marah, lo kecewa. Gue kan, udah punya pacar.”

“Enggak bakal. Gue udah tahu tujuan lo di sini buat cari temen soalnya.” Lalu ia hening kembali, jauh lebih lama.

“Bener, ya?”

“Iya.” Aku berusaha menjawab sejantan mungkin sebelum akhirnya menjatuhkan diri ke kasur, berguling-guling tak karuan. Sekarang, semuanya bias.

.

Risih memandangi gelas limunku yang mulai berair, akhirnya aku menyesap isinya sedikit. Bersamaan dengan itu, bel angin di pintu kafe berdenting lembut. Ada yang masuk!

Aku segera merapikan kerah bajuku, lalu menyembunyikan buket mawar itu di belakangku. Mungkin ini bukanlah pertemuanku untuk mendapatkan hatinya, namun aku yakin pertemuan ini diperlukan untuk memberikan kesan terakhir yang baik (aku bersumpah akan segera menghapus akunku setelah ini).

Orang yang tadi masuk bersama denting bel angin mendekatiku. “Lo coffeeandtv, kan?”

Saat itu aku sadar bahwa virtualinsanity benar, seharusnya detik itu juga aku menghapus akunku. Menghapus memori dalam otakku bahwa aku tidak punya kenalan bernama virtualinsanity sebelumnya. Bahwa virtualinsanity bukan gadis yang selama ini kucari.

.

Sudah lewat dua hari dari pertemuanku dengan virtualinsanity.

Seharusnya aku telah melewatkannya saat itu, seharusnya aku bahkan tak perlu mengingat username-nya lagi atau bahkan mengajaknya bertemu di kafe. Saat aku melihat senyumnya, aku merasakan sesuatu yang lebih aneh lagi dibandingkan cinta, sesuatu yang bagiku tak dapat dijelaskan lebih jauh lagi. Memilih untuk jatuh lebih dalam kepadanya sama dengan menyalahi semua pernyataan yang telah kubuat dan kujatuhkan atas diriku sendiri.

Sepertinya, aku benar-benar jatuh cinta.

Malam itu aku menangis keras-keras. Sepertinya, aku bukan Adrian yang sebelumnya kukenal.

 

 

virtualinsanity:

Namaku Damar.

.

A/N: Cerpen awal 2016. Cliche twists are nice, most of the time.

what i miss about you

I miss

the crumbled sound of  used oily plastic you keep in your pocket

the clinking sound of spoon and fork you forcefully stab to your fried chicken

the subtle smell smeared all over your jacket

the shared sound of bass thumping from the leftie earphone in my right ear

because they simply say

that you are

here.