tale of uncertainty

just when i think that
crystal clear state of mind
and understanding
will put things at ease

the Universe slows down
to make sure we get things
on our hands
but grants us with nothing
figured out

so, I allow fate to take me to places
and surprise me with
another possibilities
“the Universe must be joking,” I once said
but honestly, I don’t mind
and I laugh along

for the first time, uncertainty
feels
bearable
to me.

2 a.m. talk

“Halo?”

“Tumben lu bangun jam segini. Apa emang nggak tidur? Atau mimpi buruk?” cerocosnya.

“Nggak sih… kebangun aja,” ujarku sambil memijat kepalaku sendiri. Beberapa kali malam mengetuk benak yang kutinggalkan saat lelap dan beberapa kali pula aku jadi terjaga. Tapi, ini adalah kali pertama aku tanpa pikir panjang memutuskan untuk menghubunginya dini hari.

“Oh, gitu.”

“Ngapain lu bangun jam segini?”

“It’s indomi o’clock,” tukasnya santai. Jika lebih serius mendengarnya, memang ada sayup-sayup denting garpu pada panci dan bunyi air yang menggelegak berbuih-buih.

“Jam 2 pagi Mbak, bukan jam indomi.”

“Jam 2 pagi di waktu gue sedang membuat indomi. Alias jam indomi. Fair enough.”

“Buset, perasaan baru dua hari yang lalu makan indomi.”

“Ya… nggak papa!” sambungnya dengan suara tawa. Ia terdengar malas mencari pembenaran lagi, namun di saat yang sama mengakui bahwa makan mi instan terlalu sering memang tidak baik.

“Kalau ngekost jadinya every time is indomi o’clock, ya.”

“Nggak, lah. Lu kira gue maniak indomi.”

You sure sound like you are.”

“Hu-uh, terserah, deh.” Aku dapat mendengarnya mematikan kompor, lalu menuangkan isi panci ke atas mangkuk–atau piring. “Bentar, ye.”

Sesuai katanya, aku menunggu. Mendengar ia berjalan, meletakkan mangkuk–atau piring–di atas meja, lalu menarik kursi. Sejurus kemudian, terdengar suara lain, sepertinya suara suapan mi ke dalam mulutnya.

“Enak, ya?” godaku.

“Banget. Eh, sori yak, nggak bisa bagi-bagi. Daripada lo dengerin gue makan doang, mending lo cerita apa, kek. Gue dengerin deh, sampe mi gue habis. Sampe gue ngantuk juga kalau perlu.”

“Berarti cerita gue bikin bosen, ya? Bisa sampai ngantuk,” selorohku sambil memutar otak, mencari sesuatu yang dapat kuceritakan.

“Nggak, suara lo meninabobokan soalnya. Hahaha.”

“Yee. Dasar. Ngomong-ngomong, gue nggak punya cerita. Lo mau denger gue main harmonika aja, nggak?”

“Dengan senang hati.”

Aku meraih harmonika yang kusimpan di laci mejaku. Sebenarnya, sama sekali tak terpikir olehku untuk bermain harmonika, namun tiba-tiba ada serentetan nada yang mengusikku. Sambil mengepit instrumen itu di mulutku, aku meletakkan ponselku di depan mulutku lalu mulai bermain.

“Gimana?”

“Kayak jingle susu murni yang  suka lewat di jalanan, hahaha!” tawanya.

“Kurang ajar,” tukasku masam.

“Nggak sih, sebenernya nggak kayak jingle itu. Gue cuma bingung aja harus mendeskripsikannya gimana. Soalnya… aneh, ya, aneh. Aneh kayak rombongan sirkus keliling di dongeng-dongeng, jam tua yang berdentang tiga belas kali tapi hanya di waktu tertentu, halaman-halaman tersembunyi di deep web… ya… aneh, The.”

“Oh ya?” aku tertawa kecil mendengarnya. Ia selalu punya cukup banyak metafora untuk menggambarkan situasi apa pun; cukup banyak untuk selalu membuatku tercengang akan seberapa liar isi kepalanya.

“Ya…” Ia tertawa mengekor, sepertinya tak yakin harus tertawa karena apa namun ingin tertawa saja mendengar tawaku. “Dari mana tuh memang, inspirasinya?”

“Dari beberapa saat setelah pembicaraan kita berlangsung.”

“Ooo. Berarti, kita aneh, ya.”

“Itu pertanyaan atau pernyataan?”

“Pernyataan,” tawanya.

“Ya… mungkin itu ada benarnya. Tapi gue lebih suka bilang kalau kita hampir selalu terjebak dalam situasi-situasi aneh. Buktinya, keseluruhan isi pembicaraan kita sekarang aja aneh.”

“Tapi lo menikmatinya, kan?” godanya. “…seperti gue menikmati menjadi aneh bersama lo,” imbuhnya lagi.

“Tentu, lah. Siapa bilang gue nggak suka?”

“Memang ya, Tuhan bekerja dengan cara yang aneh. Dia menjadikan keanehan sebagai hal yang melekatkan kita.

Yang mana… aneh juga, tapi surprisingly, I don’t mind. Oh, look, the abundance of ‘aneh’ here.”

“Ya. Gue menikmati setiap situasi aneh bersama lo, Stara.” Aku senang menyebutkan nama depannya dan selalu mencari momen yang pas untuk mengatakannya.

Ia tertawa terbahak-bahak. “Me too, Artheo. Me too.”

Panggilan masih tersambung, namun kami diam selama beberapa saat. Setiap kali hendak berbicara, yang mampu keluar hanya dengusan yang berujung tawa.

Akhirnya, ia buka suara lagi, “Theo, lu bisa main harmonika pakai hidung, nggak?”

what i miss about you

I miss

the crumbled sound of  used oily plastic you keep in your pocket

the clinking sound of spoon and fork you forcefully stab to your fried chicken

the subtle smell smeared all over your jacket

the shared sound of bass thumping from the leftie earphone in my right ear

because they simply say

that you are

here.

dialog pinggir jalan

Mereka berjalan bersisian.

Siang itu seperti biasanya hanya dihabiskan mereka berdua. Gadis itu menyesap pelan-pelan sekaleng minuman sarang burung dingin kesukaannya, sementara pemuda itu menenggak habis susu pasteurisasi yang amat digilainya.

Are you happy now?” tanya pemuda itu, sementara ujung kotak susu ia jepit di antara telunjuk dan jari tengahnya. “Happy for what?” Gadis itu membalasnya dengan pertanyaan.

“Ya, lo lagi senang apa enggak saat ini.”

“Dari semua hal yang bisa lo tanyain, kenapa harus itu?”

“Yah,” Pemuda itu menggaruk belakang kepalanya, “Lo lagi minum minuman kesukaan lo yang kata lo susah banget didapetin di gerai-gerai minimarket, bukannya harusnya lo senang?”

Gadis itu tergelitik untuk mengamati kemasan minumannya. Ia tersenyum sambil menggoyangkannya, merasakan isinya terantuk-antuk membentur bagian dalam kaleng. “Gue nggak pernah berpikir kalau gue senang, mungkin karena gue terlalu senang.”

“Gue senang ketika gue pergi terus make batik yang bagus,” ujar pemuda itu tiba-tiba. “Gila, kalau gue udah kaya tiap hari gue mau pake batik.”

“Gue senang kalau pas gue pulang ke rumah malem-malem terus kelaperan, nasi di rice cooker masih panas.” Gadis itu menyahut sambil terkikik geli. “Sederhana banget ya, yang gue mau.”

“Ya, emang kita nggak perlu repot-repot juga sih, buat jadi bahagia.”

Dua orang itu kembali melanjutkan perjalanannya di tepi jalan. Angin bertiup malas, butir-butir pasir diterbangkannya semaunya. Mereka sama-sama sadar perjalanan kali ini hampir mencapai akhir.

“Jadi, hal apa lagi yang membuat lo senang?”

“Lo masih mau tau juga?” Gadis itu mulai merasa sedikit terusik, namun ia hanya mampu menyuarakan tawa lebih jauh. Pemuda terkaribnya itu kadang seperti mainan gacha yang tak terduga. Atau mesin jackpot di kasino.

“Ya. Gue sadar banyak banget hal yang gue nggak tahu, bahkan tentang apa yang bikin lo bahagia. Dan gue pengen tahu lebih banyak lagi hal-hal yang bikin lo bahagia. Gue harap, sih… gue salah satunya.

That way… gue boleh jadi pacar lo yang pertama?”

.

A/N: Well, you definitely didn’t ask me that way! But I’m still glad I said yes. Oh, cheesy me. Jangan tanya lagi gara-gara apa, ini gara-gara temen gue ada yang jadian (lagi).

[365/365]

afterlife or oblivion?

As my grandmother lays on her death bed, thoughts upon death starts churning inside my mind.

Ever since I was a little child, I’ve always thought that death is something sacred where people mourn over the dead. When it comes to the word “death”, I immediately think about a funeral where everyone is dressed in black. Rain pours lightly, and they stand under their umbrellas to say goodbye for the last time. Favorite bouquet of flowers that symbolizes things are also put upon the tombstone. But what I see now describes almost the contrary; that death is not just a time when you’re supposed to express sadness and grief.

Death is also about management and preparation, because the dead ones can’t just be left there to finish their duties in real life in order to reach afterlife, right? Death is also a semicolon in life because when your loved one eventually stops breathing, there’s no reason to stop your life there, too.

I guess that’s the tough part in encountering death-related events.

Speaking of which, another thoughts of mine is that which one is better; having another life after death or just die into oblivion, where death means the end of everything?

Of course, having faith in afterlife actually makes people have a reason to do nice deeds. But it seems that they’re being overshadowed by the things considered sinful. There are probabilities that people might not feel have lived their whole life passionately due to gaining their ~ticket~ to a comfortable afterlife.

In another hand, dying into oblivion means that people have no worries about what kind of fate waiting there to judge how they have lived their life. But it also states that there aren’t any motivations for people to be nice other than common sense.

Unfortunately, not all people manage their common sense well (this line is after some long convos with friends) and that’s probably why, we need guidance in life.

This guidance is called religion.