Tentang Atheis

Beberapa hari ke belakang, novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja ini jadi commuting friend gue. Gue cuma berpikir daripada gue main HP di kereta dan buang-buang kuota, mending perjalanan masing-masing setengah jam itu gue pakai buat kegiatan yang lebih berfaedah alias membaca (kalau dilakukan rutin terdengar sangat ideal ya, sayangnya gue lebih sering tidur berdiri daripada beneran baca kayaknya). Sebelum Atheis ini, commuting friend gue adalah Chinese Cinderella (Adeline Yen Mah).

Gue nggak bisa jelasin betapa senengnya gue pas nemu novel ini di antara selipan buku-buku bekas lain di Blok M Square; gue sampai lupa pernah sebegitu pengennya buku ini! Gue pertama tahu Atheis itu waktu SMA karena sering disebut-sebut berdampingan dengan karya-karya terbitan Balai Pustaka lain seperti Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat, dll. Kalau nggak salah ingat, dulu kayaknya sempet ada terbersit pakai novel Atheis juga buat referensi tugas kuliah tapi nggak jadi karena kurang relevan (tugas apa ya coba, jangan-jangan matkul Agama WKWKWK) (dulu gue pernah bikin tugas Agama terus referensinya malah dari buku filsafat, anaknya emang kadang gitu). Akhirnya gue baru berkesempatan buat baca buku ini sekarang.

Kalau orang lihat sampulnya mungkin bakal sedikit curigaan karena font-nya yang “seram”, ditambah lagi ada bercak-bercak darahnya segala (biar apa? Entah, hanya Tuhan dan desainernya yang tahu). Sering juga novel ini disangka buku nonfiksi. Terlepas dari seberapa provokatifnya sampul dan judul novel, let me tell you something: this isn’t (just) about being an atheist.

Ketimbang menghasut orang untuk jadi atheis, novel ini mengatakan sesuatu yang berlawanan; kalau orang harus beragama. Lebih spesifiknya, dia cerita tentang salah satu fungsi agama, yakni, sebagai kontrol sosial. Nggak semua orang punya cukup akal sehat untuk dilepas di masyarakat tanpa pegangan. Percayalah, di novel ini mayoritas karakternya menyebalkan dan hampir nggak berhak diberi simpati… Bahkan karakter utamanya sekalipun😂

Masuk ke bagian spiritualnya, novel ini menyoroti perkembangan karakter tokoh Hasan mengenai pandangannya terhadap Tuhan dan agama. Selama baca, gue cuma bisa menyimpulkan isi novel dalam satu kalimat, gini deh jadinya orang beragama nggak pake mikir. Salah satu basis agama adalah kepercayaan, tapi logika juga main peran di sana. Oke, kalau logika terasa terlalu scientific, kita pakai istilah pemahaman, deh. Ada alasan tertentu mengapa harus begini dan begitu dalam agama dan kita butuh pemahaman buat bisa menjalankannya dengan baik. Apalagi saat kita mencoba berdakwah atau mempertahankan ideologi kita. Kita mungkin tidak akan pernah bisa sepenuhnya sampai pada pemahaman dari sudut pandang Tuhan sendiri, tapi setidaknya kita paham betul mengenai apa yang selama ini kita jalani.

Masuk ke struktur, hal yang gue suka adalah pembukaan novelnya. Novel langsung dibuka dengan gebrakan bahwa tokoh Hasan dikabarkan meninggal, lalu tokoh Kartini menangis karena kabar tersebut. Siapa Hasan? Siapa Kartini? Saat kita membaca lebih jauh, perlahan diungkap bahwa Hasan adalah orang yang sangat religius-konservatif sementara Kartini adalah perempuan liberal yang radikal. Nah, jadi Hasan bakal jadi atheis atau gimana? Gimana perkembangan karakternya? Mengapa Hasan meninggal? Rasa penasaran ini terus mengikuti gue sejak awal cerita (dan sukses membuat gue menamatkan cerita).

Kalau dari segi bahasa, novel ini masih ditulis tidak sesuai dengan kaidah PUEBI yang sekarang. Gue rasa, ini termasuk salah satu faktor yang bikin gue bosan di awalnya, soalnya jadi bertele-tele dan bikin pusing. Tapi makin ke belakang makin seru, klimaksnya dapet banget. Selain itu, gue suka pemilihan katanya yang seringkali malah bikin gue ketawa. Ada bagian ketika Hasan dan Rusli (yang oleh Hasan dijuluki si atheis) dijamu oleh Kartini di rumahnya dan mereka makan sangat banyak. Achdiat menulis, “yang satu makan seperti kaum proletar sementara satunya makan seperti fakir miskin yang tidak diurus”. You can guess which one is which 😂

Selesai membaca Atheis, gue bergumam pada diri sendiri kalau ini adalah “buku yang baik”. Sepanjang tahun 2018, gue cuma bilang seperti itu ke novel Semua Ikan di Langit (Ziggy Z.). Sama-sama ngomongin Tuhan, cuma yang satunya lebih abstrak aja hahaha. Gue nggak pernah tahu butuh buku semacam ini, mungkin gue baru sadar setelahnya kalau gue memang butuh “kenalan” lagi sama Tuhan.

Selain mengenalkan, novel ini juga memberi tamparan telak, sih. Gue rasa juga bisa diaplikasikan ke agama secara general meskipun konteks di novelnya adalah agama Islam. Jadi, mungkin ada baiknya dipikir lagi, selama ini kita beragama hanya sampai di ujung lidah atau sudah sampai ke pikiran?

Advertisements

Published by

Nagit

nabilagita98@gmail.com

2 thoughts on “Tentang Atheis”

  1. “Ada alasan tertentu mengapa harus begini dan begitu dalam agama dan kita butuh pemahaman buat bisa menjalankannya dengan baik. Apalagi saat kita mencoba berdakwah atau mempertahankan ideologi kita. Kita mungkin tidak akan pernah bisa sepenuhnya sampai pada pemahaman dari sudut pandang Tuhan sendiri, tapi setidaknya kita paham betul mengenai apa yang selama ini kita jalani.”
    I love the words. Waktu SMP saya nemu buku ini di Perpusda & ‘gak berani baca karena katanya nanti terpengaruh. SMA baca, kemudian kayak “ih serem, beneran terpengaruh ntar gw”. Lalu bacanya ‘gak selese. Terakhir, minggu kemarin baca lagi karena penasaran, separah apa “pengaruh” itu. Bener, ternyata pergulatan batin antar tokoh hanya tipis-tipis saja dari kacamata orang dewasa seumuran saya (hah!). Mudah-mudahan gak sampe ngefek ke kehidupan sehari-hari sih haha. Gemes dengan semua karakternya. Tapi paling sebel sama si Kartini. Saya kayak ‘gak bisa percaya aja sih sama dia dari awal sampe akhir. Mungkin inilah akibat dari membaca karena melibatkan perasaan.
    Reviewnya bagus!

    Like

    1. aaaa makasi mbak Dewi, seneng ada yang baca dan sepemikiran juga :’) kalo aku paling sebel sama Hasan soalnya brengsek banget, mau bersimpati juga jadi susah 😦 makasi mbak Dewi sudah mampir<3

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s